100 Warung Enak di Yogya (Plagiat?)


Awalnya adalah ketika aku mengawani anak-anak liburan ke toko buku di YoGyA, mataku langsung “nempel” pada buku kecil bernuansa warna ceria dengan judul “100 warung makan enak! di jogja”. Ini buku yang [kayaknya] diiklankan oleh wak Radit.

Waktu itu aku minta softcopynya ke Wak radit, he..he..he… tentu saja langsung ditolak..!:-).

Membaca buku kuliner seperti ini, aku langsung dimanjakan dengan informasi yang begitu lengkap dan padat (terima kasih buat sang pengarang)

Airliurkupun kadang terpaksa kutelan, karena meskipun cara berceritanya “cekak aos” [to the point], tapi imajinasiku sudah sampai kemana-mana.

Kalaupun ada yang perlu ditambahkan, mungkin perlu dibuat rekap berdasar beberapa kriteria, misalnya :

1. Model lesehan : warung nomor x, y dan z
2. Khas mahasiswa : warung a, b dan c
3. Bisa pakai kartu kredit : warung xx, yy dan zz
4. Cocok untuk reuni [40-100 orang] : warung xx, yy, zz dan aa
5. Ultra manis : warung b, d dan f
6. Ultra pedas : warung y, z dan g
7. Bisa pesan dan antar : warung nomor x, y, b, xx, yy, zz dan aa
8. dst ….

Bisa juga dengan cara penambahan label di tiap halaman, misalnya pada halaman warung nomor x, pada baris paling bawah diberi keterangan sebagai berikut :

Label : L, M, C
artinya modelnya lesehan, khas mahasiswa dan bisa pakai kartu kredit

label : R, UM, PA
artinya cocok untuk reuni [40-100 orang], ultra manis dan bisa pesan antar

label : UP, PA, L, C
artinya cocok untuk lesehan, ultra pedas, bisa pakai kartu kredit dan bisa pesan antar

label : dll, dst ….
artinya ? tambahin sendiri saja

Dengan adanya rekap atau model labeling di setiap warung, maka pembaca akan lebih dimudahkan dalam menentukan warung mana yang akan dia kunjungi.

Bisa juga diberi keterangan tambahan, misalnya SATE pak AmAt di alun-alun utara tetap buka di hari libur besar [lebaran, tahun baru, dsb].

Waktu sahur di hari terakhir Ramadhan tahun lalu, aku mencoba warung nomor 36 Gudeg Ibukota. Menurutku penulis buku ini tidak bohong kalau bilang rasa cekernya istimewa khas Gudeg Ibukota.

Suatu saat aku pingin nyoba juga ke Sate Pak Amat, yang katanya buka di hari lebaran. Ini adalah sate yang sangat sarat dengan nostalgia, baik rasa maupun tempatnya. Bila SGPC Bu Wiryo [legenda SGPC] mencoba rasa lama + nostalgia dibalut aroma musik sebagai tambahan menunya, maka Sate pak Amat yang lebih tua umurnya [?], tetep dengan penampilan yang “ajeg”. Mungkin maksudnya agar para penggemar lamanya tidak terlalu kaget melihat perubahan penampilannya.

Begitukah?

Silahkan coba sendiri 121 warung yang ada di buku “100 warung makan enak! di jogja”. Jangan tanya alamat pada orang Yogya yang sudah lama keluar dari yogya, karena aku sendiri tidak faham betul dengan alamat yang disampaikan penulis, meskipun aku bisa nyari dengan mudah [misalnya alamat warung nomor 92 Boyong Kalegan, akan lebih enak kalau ditulis begini, “dari arah yogyakarta menuju kaliurang, setelah sampai pakem belok ke kiri menuju sungai Boyong”]

Peta yang terlampir bersama buku ini, sangat membantu mereka yang belum kenal betul dengan YoGyA. Akan lebih baik lagi kalau nomor warung yang ada dalam buku disesuaikan dengan nomor petunjuk yang ada dalam peta.

Salam Sedap “Kuliner Nusantara”


*coba update rasa Sate Pak Amat, ternyata masih mak nyuss…. [kalau aku sih tongsengnya yang bikin ngiler terus…]

+++

Buku best seller ini ternyata menuai masalah bagi seorang blogger. Silahkan simak sendiri tulisannya yang mengatakan bahwa buku tersebut adalah plagiat dari karyanya.

Benar atau salah, silahkan mencari sumber yang lain.

Share and enjoy

One thought on “100 Warung Enak di Yogya (Plagiat?)

  1. hmmmm
    dapet dimana tuh buku nya???
    kayaknya info tempat kuliner nya menarik nih heheheheheh

Tinggalkan Balasan