Benchmarking : Mie Aceh Titi Bobrok Medan

“Dimana sih tempatnya Mie Aceh Titi Bobrok?”

“Dekat sini pak. Habis itu kita makan durian di Duren Ucok. Dijamin malam ini kita akan klenger”

Begitu dialog yang terjadi antara aku dan kawanku yang belum kenal seluk beluk kota Medan, meskipun sudah cukup lama tinggal di Medan.

Di Jakarta banyak sekali lokasi warung Mie Aceh, tapi Mie Aceh yang di Titi Bobrok Medan ini hanya punya satu cabang di dekat Terminal Kampung Melayu saja.

Model warung ini memang khas warung rakyat. Jadi semuanya serba sederhana dan tidak ada kesan mewah ketika memasuki warung ini. Sponsor yang menempel di warung ini juga tidak banyak ragamnya. Yang terlihat hanya minuman ringan dan minuman teh dalam botol.

Beberapa tahun lalu, sekitar tahun 90an sampai awal 2000, warung ini hanya sebuah warung kecil saja, tetapi lihatlah kondisi di tahun 2010 ini. Warung ini sudah bisa menampung sekitar 100 orang, bahkan mungkin lebih.

Resepnya sangat sederhana. Mereka selalu siap menyediakan mie dengan kecepatan luar biasa begitu pesanan datang. Ini bukan warung fast food, tetapi pelayanannya sudah seperti fast food saja.

Ada komandan khusus di ruang masak, sehingga berdasar perintah sang komandan ini para juru masak, semuanya pria, langsung beraksi. Jenis mie yang tidak banyak ragamnya, memudahkan mereka untuk membuat mie meskipun pesanan belum datang.

“Mie goreng dua”, teriak salah satu pelayan di Mie ini dan sang komandan langsung menyampaikan pesanan ini pada para juru masak. Dalam hitungan detik dua piring mie goreng sudah siap di hidangkan ke hadapan pemesan.

“Bang tinggal dimana?”, kata salah satu pembawa mie ke meja pelanggan

“Aku dulju tinggal di Sei Ular, sekarang di Cawang Jakarta”

“Tuh ada cabang baru di Jakarta Bang. Ada fotonya di dinding sana. Lihat saja Bang. Waktu launching bos kita datang juga kesana…” dengan fasih sang pembawa mie ini terus nyerocos ketika aku mendekati dapur mie untuk mengambil beberapa gambar.

Harus diakui rasa mie Aceh Titi Bobrok memang belum ada tandingannya. Berbeda dengan beberapa warung mie Aceh yang bertebaran dimana-mana, maka di Titi Bobrok rasanya lebih “soft” sehingga bagi mereka yang belum pernah merasakannya langsung bisa “klop” dengan rasanya.

Terlihat juga di warung ini banyak sekali muka-muka non Aceh dan juga canda ria yang jauh dari dialek Aceh yang kental. Canda khas Aceh baru terasa ketika kita ada di dapur mereka.

Harga mie yang murah meriah jug amembuat warung ini jadi pilihan bagi mereka yang ingin makan enak dengan biaya murah dan pelayanan prima.

“Pak, warung ini isinya GAM semua lho”,kata kawanku

“Ah…isu..”

“Bener pak, terutama yang di dapur”

“Darimana isu itu?”

“Bener kok pak, mereka tergabung dalam Gerakan Aceh Memasak”

Kami berduapun tertawa dikuti beberapa pelanggan warung mie Aceh yang mendengar pembicaraan kita.

Di Mie Sehati, konsep fast food ini sangat menarik untuk diikuti. Pada dasarnya, kalau mie sehati sudah dibuat, maka proses perebusan mie sehati hanya butuh waktu 12 detik. Hitunglah dari angka 1 s.d angka 12, maka mie sehati akan naik sebagai tanda bahwa mie yang direbus sudah masak.

Kunjungan ke Mie Aceh ini semoga bermanfaat buat peningkatan pelayanan dan model pelayanan di Mie Sehati.

“Mie Aceh Mangat THAT!”

Share and enjoy

4 thoughts on “Benchmarking : Mie Aceh Titi Bobrok Medan

  1. Pingback: Mie SEHATI
  2. Hey, I can’t view your site properly within Opera, I actually hope you look into fixing this.

  3. Pingback: Mie SEHATI
  4. numpang lewat ya. Kalau mau jalan-jalan ke medan, or kalau mau wisata kuliner di medan, jangan lupa mampir di blog indrahalim.com ya… di situs itu lengkap reviewnya tuk resto or kedai yg menyediakan makanan enak di medan.. thx!

Tinggalkan Balasan