Bisnis Instant ternyata ada

Peserta pelatihan Mie Sehati 23 Pebruari 2014

“Wah Bisnis Instant ternyata ada ya mas?”

“Hahahaha…. memang ada tapi bisnis mie sehati ini bukan bisnis sulapan, tetap perlu kerja keras dan tak kenal menyerah dari pemilik bisnisnya”

“Beda dengan bisnis yang tinggal ongkang-ongkang kaki kemudian uang datang sendiri ya mas?”

“Mungkin suatu saat sampai juga di situ, tapi untuk yang itu tidak bisa instan”

Usaha membuka warung mie sehati memang bisa dilakukan secara instan, langsung buka warung seusai pelatihan, tapi jangan harap langsung untung berjuta-juta rupiah. Perlu kerja keras agar bisnis kecil-kecilan ini bisa menjadi besar dan menguntungkan sang pemilik warung.

Instruktur pelatihan dan pengunjung warung

Instruktur pelatihan dan pengunjung warung

“Bisnis mie ayam ini memang bisnis yang kecil saat ini mas, tapi bisa jadi akan menjadi bisnis yang sangat menguntungkan kalau memang berjalan sesuai rencana”

“Terima kasih mas”

Petikan kalimat tersebut kuambil dari percakapanku dengan seorang pembeli di warung mie sehati Taman Kuliner Condong catur. Dia tertarik melihat kegiatan belajar membuat mie sehati dan akhirnya duduk di warung sambil mengamati proses pelatihan mie sehati.

“Pelanggan mie sehati dapat dengan jelas melihat proses pembuatan mie yang sehat dan higienis mas. Mirip seperti bread talk yang kita bisa melihat seluruh proses pembuatan kuenya”, kataku sambil tersenyum.

“Ternyata mudah ya membuat mie, hanya memakai alat yang sederhana dan langsung jadi mie”

“Alat giling mie itu memang paling sederhana dan awet, dibanding alat sejenis yang terlihat lebih mewah tetapi sangat mudah rusak atau alat yang lebih kuat tapi dengan harga yang berlipat-lipat”, kataku menjelaskan tentang mesin giling mie yang asli buatan Indonesia tetapi ada yang diimport dari negeri China dengan harga yang relatif sama.

Mesin giling mie

Mesin giling mie

Tamuku ini memang sangat antusias membahas pelatihan mie sehati bulan Pebruari 2014 ini. Dia mantan anggota parpol yang kemudian mulai menjauhi dunia politik dengan konsekuensi menurunnya harta kekayaannya.

“Saya suka dengan kegiatan pelatihan mie ini mas, bukankah ini mengajari kita untuk berwira usaha dengan cara yang paling mudah tapi tetap memerlukan kerja keras? Bukan cara ajaib bak pesulap?”

“Benar mas, usaha membuka warung mie sehati adalah cara instan untuk jadi pengusaha, tapi hanya di awal saja, setelah itu masih dibutuhkan kerja keras, bahkan kerja yang sangat keras mungkin agar omzetnya terus naik”

“Saya kagum dengan siapa saja yang mau membagikan ilmunya seperti kegiatan ini. Indonesia butuh orang seperti mas yang mau berbagi ilmu untuk siapapun”

“Wah pujian itu untuk istriku saja mas, soalnya dia yang memberi pelatihan ini. Saya sendiri sangat kagum dengan master Mie Perto yang membuat semua ini terjadi. Dia adalah pencetus ide membuat laboratorium mini kuliner di rumahnya dan membagikan hasilnya kepada kita semua”

“Siapa itu?”

“Namanya pak Syamsu Irman dan dia rajin berbagi seperti ini. Dulu dia berbagi ke berbagai kota di Jawa dan ada juga muridnya dari bali. Saya kebetulan sering ikut di kegiatannya”

“Mas ikut sharing seperti hari ini?”

“Bukan, saya hanya menuliskan cara pak Syamsu Irman sharing ilmu membuat mie dan kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan di blog Mie Sehati. Blog itu akhirnya malah merebut penghargaan tertinggi dalam ajang On Off dari Acer, karena kegiatannya yang nyata di dunia online maupun offline dan memberi inspirasi pada banyak orang”

Peserta pelatihan Mie Sehati 23 Pebruari 2014

Peserta pelatihan Mie Sehati 23 Pebruari 2014

“Mas, saya ini dulu pernah punya segalanya. Pengalaman sidah mengajarkan pada saya, bahwa yang penting adalah bergerak terus dan tidak mengandalkan kekayaan, karena kekayaan itu semu. Yang kita butuhkan nanti hanya selembar kain kafan dan tanah 1×2 meter saja. Kekayaan itu tidak kita bawa ke lubang kubur, tapi kegiatan kita yang akan menemani kita di alam kubur”.

Mak jleb, ucapan ini sangat masuk dalam hatiku. Kenapa kita khawatir tidak kaya, kenapa kita tidak khawatir akan kecukupan bekal kita nanti?

Percakapan yang seru ini akhirnya berakhir ketika pelatihan berakhir dan akupun larut dalam pembicaraan lain dengan para peserta pelatihan.

“Mas, tadinya aku mau buka warung mie yang lain lho”

“Oh iya?”

“Benar mas, sampai salah satu temanku bilang untuk belajar membuat mie sendiri dan menjualnya sendiri saja. Akupun mencari di internet dan ketemu blog mie sehati mas”

“Wow keren mas. Selamat bergabung dengan para murid mie sehati mas. Semoga manfaat ya”

Kami bersalaman dan diapun memacu motornya kembali ke kotanya, Solo. Peserta lain juga memacu motornya dan kembali ke kotanya, Lamongan. Luar biasa semangat mereka mengikuti pelatihan ini. Semoga kesuksesan bersama mereka. Amiin.

Salam sehati.

Peserta pelatihan Mie Sehati 23 Pebruari 2014

Peserta pelatihan Mie Sehati 23 Pebruari 2014

 

Share and enjoy

Tinggalkan Balasan