BISNIS itu dimulai dari BERBAGI

Mie Sehati di Car Free Day Bekasi 8 Juli 2012

“Dulu saya suka pusing memikirkan borosnya bensin kendaraanku, maklum mampunya hanya beli kendaraan kuno yang bensinnya boros”

“Sekarang ternyata masalahnya masih sama, bensin boros! Soalnya mobil mewah ini semuanya di atas 3.000 cc, jadi borosnya lumayan juga”

“Dulu mikir gimana cara membayar sewa kios yang sempit di pasar yang sempit”

“Sekarang mikir dimana mencari sewa kios seharga 3 Milyar, yang lokasinya strategis”

Rangkaian kalimat itu keluar dari para pelaku bisnis yang memulai usahanya dari nol dan kemudian belajar dari berbagai macam kegagalan yang mereka peroleh. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil ketika kita mengalami kegagalan dalam berbisnis. Tentu bagi yang mau belajar untuk menjadi lebih baik.

CFD Bekasi (6)

Kegagalan bisnis selalu menjadi nuansa dalam duni abisnis. Hampir tidak ada bisnis yang langsung dapat berlari kencang tanpa pernah mengalami tersandung atau terjatuh. Bisa dibayangkan kalau saat kita sendirian terjatuh dan kemduian akhirnya bisa bangkit kembali, dibandingkan kalau kita jatuh bersama serombongan orang dan barang yang kita bawa, maka proses bangkitnya akan berbeda.

Saat bisnis awal, maka kalau kita terjatuh, hanya diri kita yang terkena dampaknya. Segala macam kegagalan bisnis hanya kita rasakan sendiri. Kejatuhan bisnis bisa jadi karena kita kurang menguasai bisnisnya, ditipu rekan bisnis, atau karena bisnis yang kita jalani sedang tidak musim. Akibatnya bisnis rugi, harta melayang dan hutang menumpuk.

Saat kita jatuh di awal bisnis, maka kerugian bisnis biasanya masih kecil-kecilan juga, harta yang kita punyai juga masih belum banyak, sehingga harta yang hilang juga tidak banyak. Orang juga belum percaya dengan bisnis kita, sehingga hutang yang kita tanggung juga tidak akan banyak.

Bandingkan kalau kita jatuh saat bisnis kita sudah berjalan lancar, sudah mempunyai aset milayaran dan sudah mapan. Kekayaan kita sudah banyak dan hutang kita juga sudah banyak. Kalau pada saat itu kita mengalami kejatuhan bisnis, maka dapat dibayangkan akibatnya.

Lalu darimana kita belajar gagal?

Mari kita mulai bisnis dengan berbagi. Dari hal-hal yang kecil dulu dan kemudian makin lama makin kita besarkan. Seorang pakar wirausaha pernah menasehatiku untuk melakukan jual beli dengan Tuhan dulu sebelum dengan manusia.

“Cobalah dagangan yang anda produksi itu disishkan untuk mereka yang membutuhkan”, katanya.

“Sudah pak, setiap selesai berdagang, kusisihkan daganganku untuk mereka yang membutuhkan”, jawabku

“Nah yang dilakukan itu masih model berbagi cara biasa, belum ekselen”

“Maksudnya?”

“Artinya barang untuk yang membutuhkan itu diberikan setelah selesai berdagang kan? Bukan di awal sebelum berdagang?”

“Ya benar. Setelah selesai berdagang baru diberikan”

“Coba dipikirkan, bagaimana kalau kita sudah berikan dagangan kita sebelum berdagang. Kita perkirakan keuntungan kita dan kemudian kita bagikan sebagian dari keuntungan kita di depan, bukan di belakang”

“Maksudnya sebelum berdagang, kita sudah membagikan sebagian dari estimasi keuntungan kita?”

“Ya benar”

Nasihat sederhana itu sebenarnya mengandung makna sangat dalam. Dengan sudah membagikan sebagian keuntungan di depan, maka sudah terpatri dalam diri kita bahwa kita akan mempunyai keuntungan sebesar yang kita estimasikan. Saat kita berdagang, maka konsentrasi kita secara tidak sadar sudah mengarah pada keuntungan sebesar yang kita estimasikan itu.

Lalu kalau ternyata tetap gagal?

Mari kita intropeksi diri kita. Dimanakah salahnya. Apa yang salah? Mengapa salah? Coba gunakan analisa Why, What, When Where dan How, tapi jangan gunakan WHO! Bila kita mulai dengan WHO, maka akan ketemu orang yang belum tentu mau disalahkan. Tetapi kalau kita kesampingkan analisa WHO, maka akan ketemu kesalahan di beberapa tempat dan pelaku (WHO) akan melaksankan tugasnya sesuai perbaikan kesalahan yang didapat.

Dengan dimulai dari BERBAGI, maka kita jadi sudah mempunyai target keuntungan yang harus dikejar dan itulah sesuatu yang harus kita perjuangan keberhasilannya. Ada target dan ada semangat memenuhinya.

Salam sehati.

Mie Sehati di Car Free Day Bekasi 8 Juli 2012

Mie Sehati di Car Free Day Bekasi 8 Juli 2012

+++

Inspirasi (nasehat diri) dari acara Car Free Day, sinergi Blogger Bekasi dan TDA Bekasi 8 Juli 2012

 

Share and enjoy

2 thoughts on “BISNIS itu dimulai dari BERBAGI

  1. Artikel diblog ini sangat informatif dan rapi rancangannya. Sebagai pembaca konstan blog Anda, saya bisa menilai Anda bahwa keterampilan menulis Anda yang hebat. Terimakasih Atas Wawasan Tambahan Yang Telah Anda Berikan

Tinggalkan Balasan