Memulai bisnis selalu penuh masalah

pasutri bw1

Dari diskusi Bisnis dengan teman-teman, baik di komunitas Tangan Di Atas, komunitas Blogger maupun Kagama Virtual, banyak hal yang telah kuserap. Dalam diskusi itu, aku memang biasanya tidak banyak berbicara, kecuali mereka kehabisan ide atau ide mereka belum memperhatikan masalah melanggar atau tidak terhadap peraturan agama yang ada di kitab suci.

“Memulai bisnis selalu penuh masalah, apapun bisnisnya”
“Ah nggak juga. Ada juga yang langsung melesat bisnisnya meskipun baru dimulai”
“Nah, sekarang kira0kira yang memulai bisnis dan langsung melesat dibanding yang mulai bisnis dan selalu penuh masalah banyakan yang mana?”
“Untuk pertanyaan ini, jawabnya tidak tahu! Belum ada lembaga survey yang melakukan survey tentang hal ini, paling banter hanya bukti empiris yang terjadi di beberapa kasus saja”

Sampai saat ini aku memang belum pernah membaca hasil survey yang mengatakan bahwa memulai bisnis itu mudah dan langsung lancar atau sebaliknya. Aku hanya punya pendapat berdasar beberapa teman yang ada di lingkunganku atau cerita yang masuk kotak pesanku. Mereka banyak bercerita tentang susahnya memulai sebuah usaha, apapun bentuk usaha itu.

Aku cerita saja salah satu kejadian di minggu ini yang menimpa Kantin Sehati di UGM dan Workshop Menulis yang diadakan di Hotel Gloria Amanda Yogyakarta. Dua acara yang awalnya terlihat mulus itu ternyata mempunyai banyak kendala saat pelaksanaannya.

Karena sudah direncanakan jauh hari, maka akupun akhirnya memutuskan untuk ikut acara Kompasianival di Jakarta dan tidak ikut acara workshop menulis maupun launching Kantin Sehati di UGM.

Apa yang terjadi kemudian?

Istriku tiba-tiba sakit, padahal paginya masih bersenda gurau, masih melakukan hal-hal yang menguras energi tanpa ada tanda-tanda kelelahan pisik maupun batin. Akupun langsung membawa istriku ke Rumah Sakit terdekat dan ditangani dengan baik oleh Bu Dokter yang berwajah bijaksana.

Persiapan perlengkapan kantin jadi bubar karena kondisi istri terus belum membaik padahal hari pembukaan kantin sudah datang. Warung mie sehati di Cungkukpun kena imbasnya, karena harus ikut memikirkan kelangsungan pembukaan kantin sekaligus menjaga pelanggan yang sudah ada di Cungkuk.

Hari pelaksanaan workshop menulis tiba dan istriku masih harus istirahat di rumah. Tekanan darahnya yang hanya 90/60 memaksanya tidak banyak melakukan aktifitas. Dokter melarangnya, sementara pekerjaan memintanya untuk beraktifitas.

Masalah masih belum selesai, beberapa mesin giling mie yang seharusnya sudah datang ternyata belum juga datang, sehingga membuat suasana warung menjadi lebih kompleks. Padahal para pemesan sudah menunggu. Stresspun bertambah di minggu ceria ini.

Tuhan telah menunjukkan nikmatnya dengan banyak memberi masalah di waktu yang bersamaan. Seolah-olah Tuhan sedang berkata, “selama ini Aku telah memberikan anugerah kesehatan padamu, apakah sudah kau syukuri dengan benar? Coba nikmati masalah minggu ini dengan sabar dan teruslah berpegang teguh pada agamamu”

Sebuah pesan pendek yang panjang masuk ke kotak pesanku dan mengabarkan tentang munculnya seorang wanita yang merupakan kawan bermain istriku ketika kecil. Semua masalah seperti lenyap begitu saja. Warung Mie Sehati di Cungkuk tetap jalan, kantin UGM lancar dan workshop tetap berlangsung sesuai jadwal.

Dalam penggalan SMSnya, istriku menulis betapa nikmatnya mengenang saat dia terbangun tengah malam dan melihat ibunya melakukan sholat malam, sama seperti ketika dia melihat kawan bermainnya saat ini. Semua yang dilihat mengingatkan dia pada mendiang ibu tercintanya.

Seandainya ibunya masih ada saat ini, tentu ibu istriku akan bangga dengan istriku yang saat ini tersenyum menikmati sakit yang dideritanya dan menikmati berita lancarnya aktifitasnya.

Ibu memang hanya satu dan hanya satu-satunya. Tidak tergantikan dan selalu penuh doa untuk anak-anaknya. Kalau kita mau jujur, semua keberhasilan kita saat ini pasti tdiak terlepas dari peran besar seorang ibu. Kalau anda seorang ibu, jadilah ibu yang baik dan berperanlah sebagai penyejuk dalam rumah tangga. Kalau anda seorang suami berbaktilah pada ibumu, rasakan betapa besarny akasih sayang ibu pada kita.

Semua usaha kita akan sia-sia kalau kit atidak bisa berbakti pada ibu kita. Meski seolah-olah tak berhubungan, tapi jika anda ingin memulai usaha, maka mintalah selalu doa restu ibumu. Doanya selalu mustajab. Insya Allah. Amin.

+++

pasutri bw1

Share and enjoy

2 thoughts on “Memulai bisnis selalu penuh masalah

  1. Pingback: Seluk Beluk Bisnis Laundry | Lestari News

Tinggalkan Balasan