Paguyuban Pecinta Kuliner Nusantara

Keluarga Susanto Penjual mie

Saat ini aku menjadi salah satu admin grup Kulinus, Paguyuban Pencinta Kuliner Nusantara, di facebook. Anggotanya saat ini tercatat ada 24.004 orang, sedangkan yang masih posisi mendaftar ada ratusan orang. Sengaja jumlah angotanya dibatasi, karena saat ini baru ramai pendaftar yang mengaku penggemar kuliner, tapi sering memasang foto non kuliner bahkan sampai foto para penjaja sex online. Salah satu anggota grup kulinus ini yang menarik perhatianku adalah mas Susanto Soetojo, ngakunya pedagang mie.

Mas Susanto pernah menulis begini,”Salah satu pelanggan terlama saya adalah executive chef Stefu Santoso. Beliau adalah presiden asosiasi chef profesional (ACP) indonesia”

“Wow keren !”, begitu kataku setelah membaca testimoni beliau.

Meski hanya produsen home industry, tapi pelanggan mas Susanto memang sudah merambah kemana-mana. Beliau masuk ke horeka (hotel, resto dan kafe) dan bukan kelas pasar melalui beberapa rekan yang ada di organisasi chef profesional, sehingga ketika ditanya harga jual mienya, jawaban yang diberikan melalui japri (jalur pribadi).

Ketika kutanya, “Kenapa tidak dimuat di jalum (jalur umum)?”

Ini jawabnya.”Kami melayani pengiriman ke mana saja. Kami bisa di hubungi via BBM 7D88D021 atau telp/WA 085216200333. Soal harga tidak ditampilkan di jalur umum, sesuai dengan kode etik bisnis online saja, karena bisa saja pembeli produk kami bukan pemakai langsung tapi supplier atau reseller. Kami menjual dengan harga yg sama. Baik mulai gerobakan sampai hotel bintang 5. Mulai yg order 5 kg sampai 200 kg”

Mie Hongkong Tix n Tog 01

Mie Hongkong Tix n Tog

Waktu kutanya mengapa tertarik bisnis mie ini, mas Susanto menjawab begini,”Sekitar 10 tahun yang lalu saya bekerja di management sebuah resto. Produk mentah kami banyak peminatnya dari luar, tapi pimpinan kami tidak berminat. Ya saya melihat itu sebagai peluang usaha”.

Naluri bisnis mas Susanto telah membuat bisnis mienya berkembang dan makin banyak peminatnya. Lebih lanjut mas Susanto ingin mewariskan ilmu membuat mie ini ke putra putrinya, karena lebih bermanfaat mewariskan ilmu dibanding mewariskan harta. Ilmu bisa menjadi harta dan harta belum tentu bisa menjadi ilmu yang bermanfaat.

Keluarga Susanto Penjual mie

Keluarga Susanto Penjual mie

Berdasarkan pengalamanku, para penjual mie biasanya sayang keluarga. Mungkin terobsesi dengan sifat mie yang bisa disajikan kapan saja dan dimana saja, sehingga keluarga penjual mie adalah keluarga yang harmonis, selalu siap dimana saja dan kapan saja untuk keluarga tercinta.

Hal ini terjadi mungkin karena aku hanya kenal dengan para penjual mie yang baik-baik saja, kebetulan penjual mie yang tidak baik, yang suka memakai pengawet, tidak ada yang kukenal. Jadi kesimpulan ini tidak ada dasarnya dan hanya untuk menginspirasi kita semua, agar menjadi penjual apapun, tetap punya niat baik untuk menyehatkan masyarakat dengan membuat makanan yang sehat dan jauh dari bahan-bahan berbahaya.

Selamat makan mie dengan cita rasa Indonesia, meskipun nama mienya sudah memakai bahasa Asing.

 

 

 

 

Share and enjoy

Tinggalkan Balasan