Persaingan buka usaha

Banyak orang beraggapan bahwa “Persaingan buka usaha itu perlu ditakuti”, padahal sebenarnya “Persaingan buka usaha itu (tidak) perlu ditakuti”. Topik ini kita bahas pada saat aku ikut motret kegiatan pelatihan mie sehati outdoor di Taman Kuliner Jogja, Sabtu 26 Januari 2013 kemarin.

pelatihan outdoor

Diskusi menjadi makin menarik karena, banyak yang masih beranggapan bahwa kalau mau buka usaha harus berbeda dengan usaha yang ada di tempat kita akan membuka usaha. “Buka usaha jangan mencari pesaing!”, begitu kilah mereka.

Persaingan buka usaha saat awal berdirinya usaha kita memang akan menghabiskan energi kita. Akan banyak energi yang dihabiskan untuk memikirkan bagaimana mengalahkan pesaing dan kadang bisa saja terjadi antara mereka yang bersaing akhirnya memunculkan perasaan bermusuhan.

Energi positip kita akan tergerus oleh energi negatip dari sebuah permusuhan. Semua ide kita untuk meningkatkan omzet penjualan atau memperbaiki kualitas usaha kita makin terpinggirkan secara tidak langsung. Akhirny abisnis kita malah jalan di tempat atau salah-salah malah bisa bangkrut.

“Baru buka usaha sebentar kok sudah bangkrut, kan begitu mas Eko? Itu pasti gara-gara persaingan buka usaha memang sesuatu yang menakutkan para pewirausaha baru”

“Bagaimana kalau aku mendoakan para pewirausaha baru itu bangkrut sekalian mas?”

“Lho?”

“Bagaimana kalau kudoakan mereka sering ditipu saat baru buka usaha?”

“Mikir persaingan buka usaha saja sudah pusing masak harus berpikir untuk siap-siap ditipu, hehehe… mas Eko bercanda ya?”

“Tidak bercanda ini. Lihat saja para pewirausaha yang kita anggap sudah mapan, apakah mereka tidak melalui tahapan bangrut, ditipu dan segala hal yang menakutkan lainnya?”

“Wah benar itu mas. Orang tuaku juga seperti itu”, tiba-tiba ada yang menyela pembicaraan ini.

“Ceritanya gimana mbak?”

“Ibuku dulu tidak punya apa-apa, akhirnya hanya bisa berjualan gethuk. Segala macam kesulitan dihadapi oleh ibuku. Yang namanya ditipu orang sudah sangat sering, tapi semua itu tidak menyurutkan niat untuktetap buk ausaha dan menjalankannya dengan penuh kesabaran. Semua orang yang pernah menipunya tetap dia jadikan kawan dan tidak ada yang dia jauhi”

” ……………………”

“Ibuku tetap baik pada mereka dan ternyata kemudian dari merekalah pintu rejeki itu terbuka. Ibuku percaya rejeki Tuhan itu lewat orang lain, dengan demikian selalu mementingkan kepuasan pelanggan adalah salah satu teori yang ibu ajarkan secara tidak langsung pada anak-anaknya”

“Wah kalau dalam teori manajemen ISO 9001, ada istilah tidak ada pelanggan yang rewel, yang ada adalah penjual yang kurang kreatif. Ibu mbak ini sudah menjalankan teori ISO 9001 tanpa perlu mempelajarinya”, kataku dalam hati.

“Dari jualan gethuk yang sederhana itu, ibuku bisa menyekolahkan anak-anaknya, bisa membeli rumah, mobil dsb untuk kita semua”

“Hanya karena gethuk ya mbak?”

“Iya mas. Sayangnya anak-anaknya malah tidak pandai memasak. Hahaha…. jadi  ikut pelatihan mie sehati untuk belajar memasak”

pelatihan  outdoor 1

Kitapun tertawa bersama, meskipun dalam hati aku juga mengiyakan pernyataan mbak ini di kalimat terakhirnya. Banyak orang tua yang sukses menjadi pengusaha, segala perjuangan dilaluinya untuk sukses dan menyekolahkan anak-anaknya dengan harapan agar anaknya nanti bisa menjadi pegawai !:-)

Akhirnya setelah anaknya sukses menjadi pegawai, terasa ada yang kurang dalam hidup ini. Merekapun mulai berpikir untuk jadi pengusaha, apapun ujud usahanya. Mereka akhirnya menyadari, bahwa apapaun jabatan mereka, saat pensiun semuanya itu akan hilang. Tinggalah sebuah post power syndrome dan segepok uang pensiun yang segera habis jika tidak diputar.

Beberapa tahun lalu aku pernah ke pabrik roti di Bandung yang dikelola oleh mantan direktur yang sudah sangat ahli di bidang ekonomi. Yang terjadi bisnisnya ternyata tidak sukses. Dunia kerja mereka sangat berbeda dengan dunia saat mereka pensiun, sehingga akhirnya mereka mundur selangkah dan menyerahkan bisnis rotinya pada istrinya. Mantan direktur itu hanya bertindak sebagai penasehat.

Hasilnya sungguh luar biasa. Pabrik rotinya berkembang pesat, sehingga kampung mereka terkenal sebagai kampung roti. Saat menjelang lebaran atau Natal, akan banyak penduduk kampung yang ikut bekerja di pabrik roti itu untuk mengejar produksi.

“Bagaimana bisa tidak terjadi persaingan di antara pabrik roti yang masih bersaudara ini? Bukankah mereka membuka toko di jalan yang sama, saling berderet dan saling berhadapan langsung?”

“Disini tidak ada persaingan buka usaha roti mas. Masing-masing toko sudah mempunyai pelanggan tersendiri. Kita memang membuat disain yang berbeda pada masing-masing toko dan ternyata mas lihat semuanya laris kan?”

Pikiranku langsung melayang ke kota Medan. Di sana ada gang yang kalau malam semua penjualnya menjual bubur ayam dan semuanya laris. Jadi terbukti bahwa persaingan buka usaha itu tidak perlu ditakuti.

“Mas Eko sudah ada cabang di sekitar rumah saya?”

“Wah itu tanggung jawab anda untuk membukanya. Kita hanya memberikan ilmu caranya membuat mie dan bagaimana menjualnya”

“Eh iya mas, bener jangan buka warung disana. Mas Eko cukup buka warung disini saja, nanti malah saingan sama saya. Hahaha….”

“Eh jangan keliru, makin banyakpenjual mie di tempat anda akan makin membuat mie sehati lebih dikenal”

“Mengapa mas?”

“Meskipun satu gang menjual mie semua, tapi warung mie sehati mempunyai keunggulan dibanding mie yang lainnya”

“Mas, banyak juga lho mie yang warnanya sama dengan mie sehati, tanpa pengawet dan tanpa penyedap MSG. Lalu apa istimewanya mie sehati mas?”

“Kita mempunyai 3 rasa istimewa”

“Rasa apa itu mas?”

“Rasa enak, enak tenan dan enak banget !”

“Hahahha…..”

Pelatihan mie out door kali ini benar-benar berlangsung penuh canda tawa. Kita jadi tidak takut lagi ditipu saat buka usaha dan tidak takut lagi bersaing secara sehat dengan penjual mie yang lain. Tidak ada persaingan antar penjual mie, yang ada adalah sinergi, saling menjadikan pesaing sebagai mitra. Saling belajar dan saling memberi pengaruh positip.

Benar kata temanku “Persaingan buka usaha itu (tidak) perlu ditakuti!”

es sehati

Share and enjoy

One thought on “Persaingan buka usaha

  1. Sebuah konsekwensi logis dalam sebuah perdagangan dan berwirausaha kita selalu dihadapkan dengan kompetitor-kompetitor, dengan muncul nya kompetitor itu kita dituntut untuk lebih berkreasi dan mengembangkan diri untuk lebih maju,hadapi mereka sebagi teman dalam berlomba-lomba dalam kebaikan,jangan sampai menumbuhkan rasa iri dengki ataupun memunculkan persaingan yang tidak sehat.

Tinggalkan Balasan