Raminten, kuliner yang “berbeda”

Menjadi berbeda belum tentu menjadi yang terbaik, tetapi yang terbaik biasanya memang berbeda.

“Yang namanya angkringan, saat ini sudah punya branded tersendiri di masyarakat. Jadi kalau mas Robby ingin angkringan Cekli-nya lebih hebat lagi ya usahakan angkringan Cekli berbeda dengan angkringan yang lain”, kataku saat diskusi dengan Owner Angkringan Cekli saat meluncur menuju Resto Raminten.

“Angkringan Cekli memang berbeda dengan angringan yang lain. Minimal menunya lebih beragam dan rasanya bisa dicoba. Ada hotspot juga. Bisa dipakai untuk acara pertemuan dan pernah dipakai oleh salah satu penyedia layanan seluler yang besar. Pernah juga dipakai ajang NoBar pertandingan besar”

Tak terasa obrolan dengan Owner Angkringan Cekli telah membawa kita di depan resto Raminten. Resto baru dengan model layanan yang “berbeda”.

Mereka menamakan para pelayan resto ini sebagai kumpulan anak-anak lulusan SLB, sehingga kalau pesanan makanan terlambat datang dimohon untuk dimaklumi dan jangan dimarahi.

Sajian menunya juga sangat bervariasi dan mengingatkan kita akan nostalgia masa kecil dulu. Cobalah wedang beras kencur dan rasakan “taste” yang berbeda dari wedang beras kencur di resto yang lain.

Sajian nasi liwet maupun nasi goreng juga berbeda penampilannya. Ada paket untuk single dan dobel, artinya nasinya banyak atau nasinya sedikit saja. Dijual juga gudir, yang dulu sering kita jadikan sebagai mainan saat kita kecil. Disini gudir adalah puding yang ditampilkan dalam bentuk yang berbeda.

Di ruang depan, sebelum masuk ke ruang makan, disediakan beberapa kursi kosong. Gunanya seperti kursi yang sering disediakan di resto Pizza, yaitu sebagai ruang tunggu karena semua kursi di ruang makan sudah terisi penuh.

Warung ini memang tak kenal henti, sehingga memudahkan para pengunjung untuk memilih jam makan. Kalau ingin antri ya dipersilahkan duduk di ruang tunggu, kalau ingin tidak antri harus benar-benar cermat dengan jam makan yang dipilih, misalnya milih jam 11.00 siang atau jam 15.00 sore.

Uniknya lagi, di bawah resto ini ternyata ada kandang kuda balap yang terawat rapi kandangnya sehingga tidak menimbulkan aroma yang tidak sedap. Pengunjung dibuat merasa sedang berada di sebuah kawasan yang unik ketika suara kuda itu terdengar jelas di telinga mereka.

Es krim di Raminten juga boleh dicoba rasanya. Kecuali bagi yang sudah kegemukan, sebaiknya hindari makan es krim di Raminten, atau akan ketagihan makan es krim disini.

Satu hal yang mungkin menjadi hal yang tidak disukai oleh beberapa orang adalah aroma menyengat yang datang dari ramuan atau “sajen kembang” yang berada di setiap ruangan. Bila alergi terhadap aroma ini, maka acara makan bisa berubah menjadi acara yang sangat tidak mengenakkan.

Aroma “klenik” khas Jawa sangat terasa, bahkan di ruang sholat yang cukup gelap, aroma ini masih terasa menyengat, sehingga yang muncul bisa jadi bukan kekhusukan beribadah tetapi rasa lain yang muncul.

Dengan kelebihan dan kekurangannya, resto ini patut dicoba untuk mengetahui seberapa cocok kita dengan penyajian dan pelayanan di resto Raminten yang “berbeda”.

Silahkan pilih sendiri selera kuliner kita.

Share and enjoy

4 thoughts on “Raminten, kuliner yang “berbeda”

    • ini memang warung model yang “beda”
      jadi bagi yang cocok pasti akan ketagihan
      bagi yang tidak cocok (mungkin karena gak tahan asap/aroma wewangian yang ada) ya boleh sekali-kali saja mampir

      salam sehati

Tinggalkan Balasan