Pelatihan Gratis? Kenapa tidak !

Beberapa bulan lalu, aku pernah bertanya pada panitia pelatihan toko online yang digelar di Surabaya. Kenapa panitia menarik biaya pelatihan sedangkan acara yang sama digelar di kota lain dengan panitia yang kurang lebih sama bisa dilaksanakan dengan gratis.

Jawaban yang kudapat sungguh membuat aku berpikir sebentar sebelum bisa mencernanya dengan baik.

“Kalau gratis gak ada yang datang mas atau kalaupun datang tapi acaranya jadi kurang meriah”

“Oooo gitu ya”, jawabku dengan sejuta pertanyaan di kepalaku.

Beberapa waktu kemudian baru aku mulai menyadari kebenaran perkataan itu. Kuambil beberapa contoh pelatihan yang diadakan tanpa membayar dan kucoba tulis disini hasil pengamatanku.

1. Berita pelatihan gratis selalu heboh dan selalu penuh dengan peserta terdaftar.

2. Saat pelaksanaan pelatihan, sebagian besar peserta berguguran dengan alasan masing-masing dan muncul peserta baru yang kadang datangnyapun terlambat.

3. Suasana pelatihan penuh tawa canda, bahkan panitianyapun kadang suara candanya lebih keras dari pembicara di depan.

4. Beberapa hari setelah hari pelaksanaan pelatihan, peserta yang ikut jarang melakukan ACTION untuk mempraktekkan apa isi pelatihan yang didapat.

5. Biaya pelatihan yang gratis sebenarnya tidak gratis 100%, karena peserta harus makan siang dan membayar sendiri, sedangkan harga eceran per peserta kan lebih mahal dibanding kalau makanan disediakan oleh panitia.

Dari lima hal di atas, aku mencoba membandingkan dengan pelatihan berbayar yang dilakukan oleh Tim Mie Sehati. Mungkin kesimpulan ini tidak tepat benar tetapi siapa tahu bisa menjadi acuan dari panitia penyelenggaran pelatihan berbayar/tak berbayar di kemudian hari.

Inilah yang kucatat terhadap pelaksanaan pelatihan berbayar.

1. Berita tidak seheboh pelatihan tak berbayar, bahkan ada yang suka menyentil tentang biaya pelatihan yang (kata mereka) seharusnya masih bisa diturunkan lagi.

2. Jumlah peserta yang melakukan konfirmasi tidak berbeda jauh dengan peserta yang hadir pada saat acara pelatihan dilaksanakan.

3. Suasana pelatihan kurang lebih sama, tetapi panitia biasanya lebih profesional, sehingga tidak melakukan hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasi peserta pelatihan. Panitia merasa mereka harus profesional karena peserta yang datang telah membayar biaya pelatihan.

4. Terlihat antusiasme yang lebih setelah mengikuti pelatihan berbayar. Para peserta lebih banyak yang melakukan ACTION setelah ikut pelatihan berbayar dibanding mereka yang ikut pelatihan tak berbayar.

5. Biaya pelatihan relatif tidak berbeda jauh dengan biaya pelatihan tak berbayar, karena panitia mendapat potongan harga makanan yang dipesan.

Mas Kika malah tetap menganggap pelatihan yang dilakukan di Warung Mie Sehati sebenarnya adalah pelatihan gratis juga, karena effort yang dikeluarkan sebenarnya lebih besar daripada uang yang dibayarkan oleh peserta pelatihan.

Jadi, sebagai panitia, anda mau milih mengadakan pelatihan berbayar atau tidak berbayar? Atau anda mau subsidi silang saja?

Cooking CLASS [4]

Pagi-pagi sudah meluncur berdua ama mantan pacar ke Pesantren Darunnadwah. Ceritanya pimpinan pesantren ini pingin siswanya belajar masak agar untuk kebutuhan masak-memasak di pesantrennya tidak perlu nyari koki dari luar.

Muter-muter di seputaran SGC, akhirnya ketemu juga, setelah beberapa kali nanya orang yang kebetulan ada di pinggir jalan.

Ternyata pesantren ini sudah sangat terkenal di lingkungan Cikarang, hanya kita saja [maksudnya aku] yang tidak tahu, jadi merasa kesulitan ketika mencarinya.

Akhirnya juga jadi tahu, bahwa pemilik pesantren ini rupanya baca-baca situs internet dan akhirnya membaca blog tentang kursus masak gratis yang diadakan di rumahku.

Begitulah, pagi-pagi aku harus mencari lokasi pesantren itu agar siang nanti tidak “keblasuk”. Maklum nanti siang kan ngajak koki dari Jakarta, jadi harus bisa mengarahkan langsung ke lokasi demo memasak.

Pulang kembali ke rumah, nunggu sebentar, tak lama kemudian datanglah rombongan dari Jakarta.

Rombongan koki inipun segera berangkat menuju lokasi pesantren.

ALhamdulillah, pesertanya lumayan banyak dan dari beberapa generasi. Mulai remaja sampai ibu-ibu.

Senang rasanya bisa membantu teman-teman di pesantren Darunnadwah belajar tentang masak memasak.

Semoga yang terlibat dalam acara ini mendapat berkah atas partisipasinya.

Amin.

Cooking Class [3]

Ahad, 1 Pebruari 2009, kembali rumah Montana dijadikan ajang untuk berbagi resep masak. Kulihat beberapa peserta masih sama dengan yang lalu ditambah beberapa muka baru.

Belum kulihat bu Amril TG yang katanya juga pingin bergabung. Sebagai sesama blogger Kompasiana, rasanya begitu ketemu sudah langsung akrab deh dengan keluarga mas ATB.

Beberapa muka lama, setelah mempunyai peralatan masak, seperti yang dipakai sang “suhu”, rupanya lebih memilih belajar masak sendiri dengan resep yang diberikan oleh sang “suhu”.

Menu kali ini adalah sebagai berikut :
Sop Daging
juice
Nasi Hainam/Hainan
Bakpao
Brownies
Es krim durian
Skippy

Semua kegiatan masak berbagai macam resep di atas dilakukan secara simultan. Saat menunggu sop masak, maka diselingi dengan pembuatan skippy, juice dan nasi hainam.

Akhirnya, satu demi satu masakan itu terhidang di depan para peserta kursus memasak ini. Seperti yang lalu, maka makanan itu diedarkan pada para peserta dan habis sudah masakan itu dalam hitungan detik. Sisa edaran makanan itupun begitu sampai di meja depan, sudah ditungguin oleh anak-anak untuk dituntaskan.

Seperti biasa, aku juga malu-malu ngabisin masakan yang terhidang di depanku [dan kemudian bergerilya untuk “ndobel”].

Paling asyik ketika membuat bakpao. Mulai dari membuat adonan, membentuk adonan sampai menaruhnya di atas kukusan.

Rasanya renyah, gurih, dan begitu cepat masuk dalam mulut, sehingga satu tidaklah terasa cukup. LiLo sampai menjilati bungkusnya, ya Allah, begitu nafsunya LiLo dengan bakpao itu.

Kelebihan dari semua masakan ini memang adalah pada mutu makanannya. Semuanya tanpa bahan pengawet, sehingga aman dikonsumsi.

Jus buah yang dibuat juga tidak dengan campuran air, sehingga tahan lama dan rasanya segar banget.

Yang hebat juga adalah ayam kampung yang dimasak. Ayam yang biasanya keras atau mengecil jika di”presto”, maka di model masak ini ayamnya tetap utuh, besar dan empuk banget.

Kuperhatikan, kayaknya kelebihan semua masakan ini terletak pada alat masaknya yang modern dan innovatif.

Misalnya alat masak sop atau nasi yang kelihatannya berupa panci biasa, ternyata pada dasar panci itu terlihat ring besi yang begitu dipanaskan sampai beebrapa saat berubah menjadi merah.

Begitu warna ring besi ini berwarna merah, maka kompor dimatikan dan panci itu dimasukkan dalam panci lain. Tunggu beberapa saat, maka masakan sudah siap saji. Penggunaan bahan bakar kompor jadi irit dan hasilnya juga luar biasa.

Kulihat juga ada pembaca blog ini yang hadir di acara itu. Wah, jadi meriah deh rumahku. Apalagi sudah ada kesepakatan dari peserta masak itu untuk secara rutin menggunakan rumahku sebagai ajang belajar masak.

Ajang belajar masak ini memang hanya sarana untuk berbagi dan bersosialisasi dengan sesama penggemar masak memasak. Meskipun ada juga yang jarang atau tidak pernah masak tapi pingin sekali bisa masak.

Di saat hidup dan kehidupan ini semakin keras, maka saling berbagi adalah salah satu solusi untuk saling meningkatkan kualitas hidup kita. Bisa juga saling berbagi pengalaman nonton Perempuan Berkalung Sorban atau berbagi ilmu yang lain.

Bahkan di akhir acara ada yang nelpon pada pemilik acara untuk membeli alat masaknya, sehingga dia diarahkan utnuk datang ke rumahku. jadi deh aku punya saudara baru, yang kalau tidak ada acara ini pasti tidak mungkin sampai ke rumahku. Begitulah Tuhan mengatur lakon di dunia ini.

Semoga semua ini mendapat ridlo dari Allah swt.
Amin.

Ditunggu masukan resep dari para pembaca blog ini. Silahkan kirim ke eko.eshape@gmail.com. Kalau mau SMS bisa langsung ke 0888 308 7532

Kalau mau ikut nggabung, silahkan catat alamat ini :
Ibu Yeni [Ny eko eshape],
alamat di Jl Puspita VII Blok T.26 Montana Executive
Jababeka 17550,
telp 021.89836906.

Selamat berbagi.

Cooking CLASS [2]

Hari ini seharusnya ada lomba masak nasi goreng antar ortu di rumah. Isteriku dibantu anak nomor dua, sedangkan aku dibantu anak nomer tiga dan Jurinya anak “mbarep”. Jadi bapak berpasangan sama anak laki-laki dan ibu sama anak perempuan.

Lomba yang sedianya diadakan malam minggu kemarin, diundur menjadi Minggu pagi, hari ini. Sayangnya, pagi ini pembantu gak datang, sehingga acara kembali berubah.

Kita mulai Minggu pagi dengan acara “nyupir” [nyuci piring] sendiri, kemudian menata ulang ruang tamu, karena akan ada banyak tamu di pagi ini untuk acara belajar masak “gratis” yang dikomandoi oleh istriku.

Begitu sofa mulai digeser, maka terlihatlah kotoran yang sudah menumpuk di bawah sofa, sehingga perlu sedikit “effort” untuk membersihkannya.

Jam 9.30 sang koki sudah datang, dan beberapa saat kemudian para peserta kursus masak ini sudah mulai berdatangan. Aku senang acara ini dapat dimulai tepat waktu. Kokinya pun terlihat sangat profesional terhadap waktu.

Kita memang perlu menghargai yang sudah datang tepat waktu. Tentu saja, tujuan acara tetap ditujukan untuk dapat diikuti oleh semua peserta. Disini diperlukan ”rencana A dan rencana B”, bila peserta tepat waktu maka pakai rencana A dan bila ada yang terlambat pakai rencana B.

Saat aku jadi instruktur, maka biasanya aku buka acara dengan beberapa ”ice break”, pada jam mulai acara. Dengan demikian peserta yang datang sesuai jadwal merasa dihargai, sedangkan peserta yang datang terlambat, tinggal mengikuti suasana yang sudah terbentuk.

Acara kursus masak ini, tadinya diperuntukkan buat anak-anakku, agar mereka tidak terlalu terpaku pada acara TiVi atau internet. Kami ingin menjauhkan anak-anak dari layar kaca, yang akan mengurangi kegiatan sosial mereka dan menggantinya dengan acara yang lebih bermanfaat.

Pagi tadi, sebelum acara, kukumpulkan anak-anak untuk menjelaskan tentang acara kursus ini. Ternyata tanggapan mereka kurang menggembirakan. Komentar mereka menunjukkan, bahwa mereka lebih suka hasil dari kursus masak daripada mengikuti acara kursusnya.

Kemarin, aku sudah terlalu semangat memohon anak-anak menulis di blog ibunya, dan anakku menganggap itu suatu pemaksaan, sehingga aku harus lebih hati-hati mengajak anak-anak untuk mengikuti acara kursus ini.

Begitulah, ketika acara dimulai, maka hanya anak nomor dua yang mengikutiku keluar dari kamar, bergabung dengan para peserta kursus masak. Untunglah, anak bungsu ikut juga keluar.

Biasa, memang si bungsu LiLo ini paling suka berteman dengan orang lain, sehingga meskipun dia [mungkin] tidak tertarik dengan acara kursus masak, tapi dia ingin berkenalan dengan para tamu yang hadir di rumah.

Baru beberapa menit acara dimulai, rupanya anakku nomor dua melihat kalau acara ini sangat menarik, sehingga dia masuk kamar dan memanggil kakanya untuk ikut bergabung.

Alhamdulillah, doa ortunya terkabul, tanpa perlu pemaksaan.

Peserta kursus ini begitu antusias mendengarkan ”ceramah” dari sang koki. Banyak teori masak yang disampaikan, terutama tentang kegagalan masak dan penyebab kegagalannya.

Peserta yang sebagian besar ibu-ibu terlihat mendapat beberapa pencerahan dari ”ceramah” sang koki. Apalagi beberapa remaja putri yang mungkin pengalaman masaknya tidak sebanyak para ibu-ibu.

Kulihat mereka pada mencatat apa yang disampaikan oleh sang koki. Apalagi ketika sampai acara pembuatan beberapa menu makanan.


Sang koki harus sabar mengulang komposisi menu yang disampaikan. Padahal model penyampaiannya cukup bagus. Misalnya dia kelompokan bahan masakan menjadi 3 kelompok [A, B dan C], maka yang pertama masuk ke tempat pemasakan adalah kelompok A, kemudian setelah beberapa saat, masuklah kelompok B dan terakhir kelompok C.

Hanya dalam waktu 2 jam, telah dimasak beberapa menu makanan dan bumbu makanan sebagai berikut :
1. Kue donat
2. Kare ayam [kampung]
3. Nasi [pulen] dari bahan nasi biasa [bukan dari beras yang harganya mahal]
4. Nasi liwet
5. Rujak
6. Juice buah campur
7. Es krim [aneka rasa]
8. Jus cabe
9. Santan
10. Selai kacang

Yang membuktikan bahwa menu ini bercita rasa tinggi adalah ketika masing-masing makanan itu sudah siap saji. Meski tidak berebutan, terlihat animo yang besar dari peserta untuk menghabiskan makanan yang sudah tersaji.

Anak-anak kecil yang biasanya sulit makanpun terlihat ikut antre untuk merasakan nikmatnya hasil masakan sang koki [termasuk anakku LiLo yang biasanya sulit makan].

”Ayam [kampungnya] kok empuk ya”, begitu komentar mereka.

Acara ini berakhir setelah adzan Duhur terdengar.

Minggu depan, akan dibuat menu ”chicken nuget” tanpa bahan pengawet dan beberapa menu lain [yang masih dirahasiakan].

Yang tertarik gabung silahkan datang ke rumah.

Hostnya bu Yeni [ibu eko eshape],
alamat di Jl Puspita VII Blok T.26 Montana Executive
Jababeka 17550,
telp 021.89836906.

Kabari via telp atau email [yeni.eshape@gmail.com] kalau mau bergabung.
Bisa juga kontak sama suaminya, yaitu aku sendiri eko.eshape@gmail.com
+++
penulis : eshape

Cooking CLASS

Keinginanku untuk ngajari anak-anakku masak, kelihatannya akan terkabul besok pagi. Biar ramai, maka acara belajar masak ini kupblikasikan ke pasar kaget Jababeka

Senang rasanya ngajak orang sekampung atau sekecamatan untuk main ke rumahku, menemani anakku belajar masak.

Masalah yang mungkin timbul adalah peserta yang terlalu banyak sehingga rumahku nggak cukup menampung mereka. Jangan-jangan anakkupun jadi malu untuk belajar bersama mereka.

Semoga Tuhan memilihkan peristiwa terbaik untuk keluargaku, besok.
Amin.

==============

Hari : Sabtu-Minggu
Waktu : 10.00 – 12.30
Tempat : Ibu Yeni, Jl. Puspita VII Blok. T/26 Montana Excutive Cikarang Baru, JABABEKA..!!

Hubungi :
08889848573
021-89836906
021-33070234

Mulai tanggal 30 Nopember 2008 [tiap Sabtu & Minggu]