Ilmu Bisnis Lotek SEHATI : Kenali pelangganmu

Lotek sehati

“Baru jam 14.00 kok sudah habis lotek sehatinya ya?”

“Benar, hari ini lotek sehati hanya tersedia sampai jam 14.00”

“Kemarin kayaknya sampai jam 14 lebih deh”

“Benar dan kemarin-kemarinnya lagi bahkan sampai jam 16.00 baru habis”

“Lalu kenapa tidak ditambah bahan lotek sehatinya, sehingga tetap jam 16.00 habisnya?”

“Pada saatnya nanti pasti kita tambah, tapi tidak untuk bulan ini”

“Kenapa?”

“Begini. Namanya bisnis kuliner memang fluktuasinya bisa kecil bisa juga besar dan kita harus mencermatinya dengan baik-baik. Kita harus tahu perilaku pelanggan kita”

“Maksudnya?”

“Ada saatnya pelanggan tiba-tiba melonjak tinggi dan ada kalanya juga pelanggan tiba-tiba habis tak tersisa. Semua itu harus kita perhatikan baik-baik”

“……..”

“Pada kasus lotek sehati ini, seorang teman pernah memberi nasehat padaku dengan sebuah contoh tentang larisnya sebuah bisnis kuliner pecel dan akhirnya harus rela kehilangan omzet pecelnya, bahkan warungvnya akhirnya tutup”

“Gimana ceritanya?”

“Saat bisnis pecelnya naik omzetnya, maka bahan baku pecel juga ikut naik seiring dengan makin banyaknya pelanggan. Begitu seterusnya, yang tadinya hanya jualan pagi, lama-lama jadi sampai malam”

“Terus?”

“Tiba-tiba pelanggannya habis sedikit demi sedikit. Merasa pelanggannya mulai kabur, maka dia mulai menambah porsi jualannya dengan harapan pelanggan akan berbondong-bondong datang lagi. Benar adanya, beberapa pelanggan yang tadinya sudah pergi mulai bermunculan kembali”

“Terus kok bisa akhirnya pelanggannya hilang?”

“Ternyata kembalinya para pelanggan itu hanya semu, beberapa saat kemudian pelanggannya benar-benar habis, bahkan untuk jualan yang lainnya pelanggannya ikut habis”

“Apa sebabnya?”

“Ada beberapa sebab”

“Apa itu?”

“Pertama, ternyata ketika dia mulai kuwalahan melayani pelanggannya, maka kualitas dari pecelny amulai menurun. Bahan baku yang tadinya hanya sedikit dan dalam kondisi yang segar, sekarang jadi kurang segar dan para pelangganpun mulai menanyakan kenapa mutunya menurun tetapi kuarng mendapat perhatian yang baik dari penjual”

“……….”

“Ketika pelanggan mulai menurun, ternyata dia sikapi dengan menambah jumlah porsi jualan dan otomatis harga jadi murah dan margin keuntungan menurun, tapi masalahnya justru pada porsi pecel yang jadi kebanyakan bagi beberapa orang. Yang tadinya satu porsi terasa pas, sekarang jadi kebanyakan dan tidak termakan habis”

“Oh aku tahu. Porsi makanan untuk kuliner sebaiknya ukurannya adalah hampir kenyang. betul kan?”

“Ya benar. Sebaiknya satu porsi terasa kurang tapi dua porsi mungkin kelebihan sedikit. Dengan demikian selesai menyantap satu porsi rasanya masih ingn nambah lagi karena rasa enakny amasih ada dan rasa kenyangnya juga belum tercapai”

“Contohnya di warung soto medan atau soto sulung yang sering orang sudah pesan dua mangkuk padahal satu mangkuk juga belum dimakan”

“Benar. Dalam kasus ini, meskipun harganya sudah murah tapi karena porsinya jadi besar ada beberapa pelanggan yang tidak merasa nyaman lagi. Hal ini masih ditambah dengan fluktuasi naik turunnya pelanggan yang terjadi secara signifikan. Pada saat pelanggan turun, maka bahan baku jadi begitu banyaknya yang tersisa dan pelanggan jadi bertanya-tanya melihat sisa bahan baku yang masih banyak. Mereka mulai berpikir bahwa kualitas pecel ini mulai menurun”

“Akibatnya penikmat pecel makin sedikit ya?”

“Benar dan ternyata saat disibukkan oleh masalah pecel ini, jualan yang lain terlupakan, sehingga warung akhirnya sampai pada satu titik, tutup !”

“Wah kasihan ya. Ini cerita beneran atau karangan ya?”

“Ini cerita tidak 100 persen nyata, tapi intinya kurang lebih seperti itu dan terjadi beneran hanya disamarkan nama jualannya agar menjadi pelajaran bagi kita semua dan tidak memalukan bagi pelakunya. Semoga menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua”

Merekapun bersalaman dan saling tersenyum penuh arti. Sebuah pelajaran berharga telah didapat. Meskipun tidak seratus persen benar, tapi satu hal yang bisa diambil hikmahnya untuk bisnis kuliner adalah masalah RASA. Kualitas jualan harus selalu prima agar pelanggan tidak lari.

Semoga artikel “Ilmu Bisnis Lotek SEHATI : Kenali pelangganmu” ini bermanfaat bagi para pembaca. Ambil yang benar buang yang salah. Semoga sukses, mulia dan berkah bisnis kita. Amin.

Sahabat dan pelanggan Lotek Sehati

Jadilah Petani dengan Mental Pemburu

Jadilah Petani dengan Mental Pemburu!“, kata mas Bambang Lare Solo ketika memberi pencerahan pada para peminat ilmu minum teh di Agri Park Bogor.

Acara tunggal sharing ilmu ngeteh ini memang menjadi acara inti pertemuan para alumni UGM yang berkumpul bersama dalam rangka mempererat tali silaturahmi antar angkatan dan antar fakultas.

Syawalan Kagama Virtual Jabodetabek

Dalam paparannya, mas Bambang Lare Solo tidak hanya bercerita tentang aneka rupa teh, yang harganya bisa sampai puluhan juta, tapi juga bercerita tentang perlunya puny amental sebagai pemburu.

Pekerja, diumpamakan sebagai petani oleh mas Bambang dan wirausahawan diumpamakan sebagai pemburu. Pekerja selalu pasti dalam menerima gaji, seperti petani yang jelas tahu kapan memanen tanamannya. Sementara itu pemburu serba tidak jelas, apakah akan pulang membawa buruan atau pulang dengan tangan hampa. Petani yang dimaksud adalah petani penggarap yang bekerja kepada tuan tanah.

Perumpamaan ini sangat menarik bagiku. Meskipun tidak tepat benar, tetapi sangat mudah dipahami betapa kita kadang lebih suka menunggu datangnya rejeki dan bukannya menjemput rejeki.

Pada masa tuanya, maka muncul hantu pensiun di kalangan petani. Tenaganya sudah tidak dibutuhkan sementara itu dia masih perlu mencari rejeki, minimal untuk mempertahankan hidupnya. Keahliannya hanya bertani dan tidak ada keahlian dalam berburu.

Sementara itu pemburu juga diberi nasehat oleh mas bambang. Bahwa kalau berburu kelinci, maka jangan kebanyakan kelinci yang diburu. Bisa-bisa tak satupun kelinci yang didapat. Fokus dan burulah seekor demi seekor.

Tamsil ini tentu tidak tepat benar dan bahkan ada yang bisa mendebatnya semalam suntuk, tetapi aku lebih suka mengambil makna dari tamsil ini. Lupakan makna negatip dan temukan nilai positip dari tamsil ini.

Indahnya masa pensiun dalam bisnis teh sudah dirasakan oleh mas Bambang. Kuncinya harus fokus dan punya keunikan tersendiri dalam menjalankan bisnis.

“Passion dalam berbisnis sangat penting, tanpanya, maka bisnis akan berjalan seperti tanpa nyawa. Pasti akan jauh bedanya dengan bisnis yang berjalan penuh ruh”

Bagaimana mengelola passion, ada beberapa pointg penting yang harus diketahui :

  1. Googling
  2. Reading
  3. Writing
  4. Networking
  5. Mencari mentor
  6. Personal Branding
Intinya, harus haus ilmu, terus belajar dengan memanfaatkan berbagai macam sarana maupun prasarana, terus berbagi baik melalui tulisan maupun jalinan pertemanan (networking), mencari orang yang dapat dijadikan mentor dan tidak bosan untuk melakukan personal branding.
Contoh personal branding, misalnya menulis dalam sebuah blog dengan fokus pada suatu bahasan, misalnya teh. Jangan campuri dengan hal-hal yang lain, karena akan membuat tulsian kita menjadi seperti koran atau majalah. Hilang kekhasan kita dan personal branding akan kurang berhasil.
Mas Bambang menulis dalam presentasinya sebagai berikut tentang personal branding :

Personal Branding Merupakan sebuah pencitraan pribadi yang mewakili serangkaian keahlian suatu ide cemerlang, sebuah sistem kepercayaan dan persamaan nilai  yang dianggap menarik oleh orang lain. Personal Branding adalah segala sesuatu yang ada pada diri anda yang membedakan dan menjual, seperti pesan anda, pembawaan diri dan taktik pemasaran (Kupta by Silih Agung Wisesa)

Contoh personal branding juga telah diterapkan di blog ini. Meskipun artikelnya bermacam jenis, tapi tetap ada benang merah yang menghubungan antara kegiatan BISNIS, Mie Sehati – Testimoni dan maupun semangat bersinergi ala Tangan Di Atas.

Resep umum personal branding adalah 3 jurus sakti, yaitu :

1. Jadilah yang pertama

2. Jadilah yang berbeda

3. Jadilah yang lebih baik

Sepulang acara ngeteh bersama ini, tetap saja yang terngiang di kepalaku adalah kalimat penting dari mas Bambang : “Jadilah Petani dengan Mental Pemburu”. Suatu saat kita pasti jadi PEMBURU, entah kapan, untuk itu mulailah belajar berburu mulai dari sekarang !

Syawalan Kagama Virtual Jabodetabek (34)

Persaudaraan antara Owner Teh Lare Solo Bogor dan Mie Sehati Jogja