Kuliner Pakem Jogja

Salah satu direktur BUMN bertanya pada grup WA (Whatapps), menanyakan tentang Kuliner Pakem Jogja yang paling maknyus lezatnya. Akupun langsung upload foto direktur anak perusahaan yang sedang menikmati lezatnya kuliner kopi klothok Pakem.

Kusampaikan bahwa meskipun belum lama berdiri tapi tempat ini sudah langsung laris dan sangat kental dengan suasana Jogja yang adem ayem dan penuh kekerabatan.

Semua pengunjung bisa menikmati suasana malam ala Maliboro, tapi di pagi hari sampai sore. Bedanya mungkin belum adanya iringan musik dari pengamen untuk menciptakan suasana malioboro.

Kuliner kopi- klothok

Kuliner kopi- klothok

Soal selera kuliner, sudah tersedia berbagai macam menu kuliner Pakem, mulai jadah tempe, sayur lodeh, gudeg ceker sampai ke pisang goreng yang aduhai antrinya. Semua disajikan dengan cara “self service” alias prasmanan.

Halaman belakang kopi klothok

Halaman belakang kopi klothok

Pengunjung yang datang beraneka ragam, dari pesepeda mahasiswa sampai menteri, campur baur dalam suasana yang merakyat. Boleh pilih tempat duduk yang ada, baik berduaan atau rombongan, di kursi atau lesehan di lembaran tikar tanpa atap.

Suasana yang dijual memang dekat dengan suasana pedesaan, tempat duduknya yang di dekat pematang sawah, terasa menyegarkan karena hembusan angin yang semilir mendayu-dayu.

Halaman belakang kopi klothok

Halaman belakang kopi klothok

Lokasi Kuliner Pakem Jogja yang kurekomendasikan memang jauh dari mahal, meskipun bagi beberapa goweser yang biasa mangkal di Warung Ijo terasa masih kurang murah, tapi kulihat banyak juga goweser yang menjadi pelanggan kopi klothok. Kota Jogja memang hanya sekitar 16 km dari kopi klothok, kalau berkendara dari Jogja, belok kanan sebelum simpang-4 menuju Cangkringan dan Turi.

Bagi istriku, sayur yang disukainya adalah sayur lodeh dan nasi megono yang lezat. Pagi ini, aku sengaja agak siang datang, akibatnya aku kehabisan gudeg ceker dan harus antri panjang ketika ingin melahap pisang goreng.

Aku memilih halaman belakang sebagai tempat duduk dan cukup memakai bambu untuk tempat menaruh makanan. Rasanya sejuknya alam Pakem yang indah menambah selera makanku. Padahal yang dilihat hanya pematang sawah yang sempit dan mungkin beberapa tahun lagi sudah jadi rumah gedong.

Giliran bayar, hanya kejujuran yang dipertaruhkan oleh empunya warung kopi klothok. Kita tinggal menyebutkan apa yang kita makan dan minum, kasir langsung menyebut angka. Harganya dijamin murah untuk kantong wisatawan. Syaratnya pengunjung tidak boleh membawa makanan untuk di rumah. Harga yang diberikan adalah harga untuk makan di tempat.

Kapada para pengunjung kopi klothok, diminta untuk mengambil kuliner semampu perutnya saja, sehingga tidak ada makanan yang tersisa. Tidak disediakan plastik di warung kopi klothok, dengan harapan tidak ada yang membungkus makanan dengan plastik untuk dibawa pulang.

Sayang memang aku datang tidak mengajak anak-anak dan agak kesiangan datangnya. Kebetulan hari ini pengunjungnya cukup padat, sehingga lokasi parkir penuh sesak dan apalagi antri makanannya. Sangat berjubel !

Di warung lain mungkin akan banyak sumpah serapah karena sistim antrian yang tidak jelas, tapi di warung ini, meskipun pengunjung berjubel tetap muncul banyak canda tawa. Apalagi jika bertemu dengan kenalan jauh, ditanggung gurauan makin kencang di telinga.

Seusai dari kopi klothok, akupun menyempatkan diri untuk mampir di Jadah Tempe Mbah Carik Km 14. Banyak oleh-oleh yang menarik bagiku disini. Utamanya tentu Jadah tempe, sama dengan yang ada di Kaliurang hanya lokasinya yang beda. Kemudian yang kucari adalah wedang uwuh model sasetan.

Masih banyak sebenarnya “Kuliner Pakem Jogja”, tapi lebih baik kutulis di postingan yang lain,

Jadah tempe mbah carik

Jadah tempe mbah carik