Buka Bersama @TDAJogja dan pasukan @SrudukFollow

Senyum di bukber mie sehati

Pemberitahuan mendadak ternyata tidak menyurutkan langkah para teman-teman komunitas Wirausaha terbesar TDA Jogja dan juga komunitas SrudukFollow Jogja untuk hadir di acara Buka Bersama (dadakan) ini. Kebetulan beberapa anggota sruduk follow adalah mereka yang belum lama ikut komunitas TDA Jogja.

“Apa itu sruduk follow?”, langsung saja para anggota komunitas TDA Jogja bertanya pada pasukan sruduk follow ketika aku memperkenalkan mereka.

“Komunitas sruduk follow adalah komunitas yang mengajak anggotanya untuk saling bersilaturahmi, saling follow dan menemukan keluarga baru di komunitas ini. Jadi intinya hanya silaturahmi dengan mendahulukan mengikuti akun temannya yang memasang bio sruduk follow di akun twitter dan kemudian melakukan folbek bagi yang disruduk (diikuti)”

“Hanya dengan menulis sruduk follow di aku twitternya?”

“Ya benar, Hanya itu. Tapi kalau mau aktif ya sambil mencari akun lain yang memasang tulisan sruduk follow di bionya dan langsung mengikuti”

“Kalau kita mengikuti akun twiter yang sudah menulis sruduk follow di bionya, apakah pasti akan mendapat follbek?”

“Etikanya begitu, tapi sebaiknya niatkan untuk mengikuti saja, maka selain bersedah follower juga membuat nyaman saat mengklik follow ”

Ngobrol bersama kopdar TDA Mie Sehati

Diskusi semakin rame ketika akhirnya mereka bergerombol memisahkan diri dari kelompok lain yang terdiri dari para tetanggaku, saudaraku yang juga asyik berkumpul bersilaturahmi di kopdar dadakan ini.

“Acara ini tidak ada agenda apa-apa, jadi hanya berkumpul, mimun danmakan kecil bersama untukmembatalkan puasa, sholat maghrib bersama, makan malam dilanjut dengan tarwikh bersama”, begitu ucapku ketika menjelaskan acara kopdar buka bersama dadakan ini.

Selama ini kita sering mengikuti acara buka bersama yang akhirnya jauh dari nuansa Islami. Dulu acara buka bersama yang tidak islami sering terjadi di hotel-hotel berbintang atau restoran yang tidak menyediakan ruang sholat yang memadai.

Sekarang kelihatannya sudah banyak yang sadar kalau acara buka bersama itu harus ada rangkaian jamaah sholat bersamanya, sehingga di hotel-hotel berbintang acara buka bersama mulai disediakan tempat sholat bersama yang memadai.

Konsep awal acara ini sebenarnya hanya ingin menunjukkan kalau warung mie sehati juga buka di bulan puasa,utamanya menyediakan makanan takjil untuk berbuka puasa. Jadi para tamu dipersilahkan memilih makanan takjil yang disukai untuk membatalkan puasanya, kemudian sholat maghrib berjamaah dan setelah itu baru duduk manis untuk makan malam.

Acara utamanya hanya ngobrol saja sesuai kelompok obrolan yang mereka sukai. Jadi memang dibuat bergerombol dan tidak ada acara yang menyatukan mereka. Biarkan mereka puas mengobrol saling berbagi tentang apa saja.

Acara ngobrol santai itu akhirnya harus ditutup ketika adzan Isya mulai berkumandang saling bersahutan di lingkungan jalan Cungkuk Raya.

“Mau sholat tarwikh di warung atau di Mushola atau masjid?”

Semua saling berpandangan, mungkin ada yang setuju di masjid dan ada juga yang setuju di warung saja.

“Kalau di warung Imamnya suka jumlah rakaat sedikti dan kecepatan sholat yang normal. Kalau di masjid jumlah rakaat sedikit tetapi bacaan imamnya tartil”

“Hahaha… iya aku tadi sholat maghrib di Masjid bacaan imamnya lamaaa banget..”, salah satu dari para tamu menjawab dan membuat yang lain ikut tertawa.

Akhirnya diputuskan sholat tidak di warung dan mereka bebas memilih di mushola atau di masjid. Sepulang tarwikh kembali kita berdiskusi tentang apa saja, meskipun sebagian besar atau hampir semu atamu sudah kembali ke rumah masing-masing. Mas Bagus yang tetap setia ngobrol ngalor ngidul membahas twitter, sepeda maupun TDA.

Sampai ketemu lagi di bukber dadakan yang akan datang. Salam sehati

Sebagian peserta Bukber yang masih bertahan sampai acara selesai

Sebagian peserta Bukber yang masih bertahan sampai acara selesai

Cebi Cafe

Akhirnya kesampaian juga aku nongkrong di Cebi Cafe. Pelayanan yang ramah menjadi sajian awal di cafe “cekli” ini. Senyum yang terkembang dan kecekatan pelayanan membuat kitamerasa nyaman serasa di rumah sendiri.

Suasana layaknya rumah sendiri ini sangat terasa kalau kita duduk di sofa yang ada di lantai atas. Sofanya cukup empuk dan warnanya “matching” dengan hidangan yang keluar begitu cepat.

“Rasanya baru pesan kok langsung dianter ya?”, kata mas Hendy mengomentari kecepatan pelayanan ini.

“Mereka sudah tahu apa yang akan dipesan mas Hendy, jadi mereka sudah membuatnya sejak sebelum mas Hendy masuk ke cafe ini. Mereka orang yang waskita, sudah tahu sebelum terjadi (ngerti sakdurunge winarah)”, komentarku atas keheranan mas Hendy.

Ajang kopdar alumni UGM ini akhirnya malah jadi kopdar Alumni Teknik Sipil UGM, karena hanya mbak Ratih yang bukan alumni Teknik Sipil. Sekelompok laki-laki dari Teknik ketemu dengan seorang wanita cantik dari alumni Non Teknik, ya sudah bisa dibayangkan sendiri suasananya.

Pemilik Cebi Cafe ini alumni UGM juga, tetapi karena hari ini dia bertugas sebagai pemilik Cafe, maka dia lebih sering duduk menghadapi para pelanggannya dibanding ikut ngumpul dalam acara kopdar alumni UGM ini.

Keinginanku untuk mencoba cita rasa cafe ini memang sudah lama, disamping untuk menikmati sajian menu khasnya, aku juga ingin mencoba fasilitas hotspot yang ada di cafe ini. Maklum dua minggu lagi, tanggal 27 Februari 2011 aku akan memimpin acara workshop tentang blog di cafe ini. Istilahnya Blogshop alias klinik blog, bagi pemula.

Hari kasih sayang yang diperingati dimana-mana rupanya mendatangkan berkah juga di cafe ini. Terlihat pengunjungnya cukup rame dan didominasi oleh kalangan remaja. Mas Riza, pemilik cafe terlihat membidik kalangan muda yang enerjik sebagai target pasar cafe ini.

Meskipun hotspotnya tidak terlalu kencang dibanding DOJO Hotspot (hehehehe…cafe kok dibandingin dengan warnet), tetapi sudah cukup memadai untuk berselancar di dunia maya. Tentu saja jangan memilih berselancar di situs yang “berat”.

Menu yang disajikan cukup beragam, mulai dari kue, Ice Cream sampai minuman yang menyegarkan. Harga per porsi juga berkisar antara 8.000 sampai 12.000, sehingga cukup “reasonabe” untuk pasar sekelas remaja.

Kalaulah ada kekurangan soal tempat, maka akses tangga dari bawah ke atas cukup sempit, sehingga jadi gang senggol dan cukup licin karena tidak ada stopper. Lilo sempat meluncur di tangga ini ketik adengan sedikit ngantuk dia menuruni tangga.

Mungkin ma Riza bisa menambahkan pengaman atau minimal peringatan untuk berhati-hati bila naik turun tangga ini.

Suasana yang nyaman ini membuat pembicaraan kita makin asyik, sehingga tahu-tahu sudah jam 22 lewat. Padahal aku nongkrong sejak usai berbuka puasa di rumah, artinya sudah lebih dari 3 jam aku nongkrong di cafe ini.

Pembicaraan awal dimulai dengan bahasan seputar kartu kredit BNI Kagama. Rupanya masih banyak yang belum ngeh bahwa dari dulu sudah ada kartu kredit BNI UGM, sehingga ketika kutunjukkan kartu kredit BNI UGM , maka sebagian peserta kopdar merasa perlu untuk mempunyai kartu kredit BNI Kagama yang dijanjikan akan lebih bermanfaat dibanding kartu kredit BNI UGM.

Bahasan kedua adalah tentang kelompok mastermind yang terbukti mampu membuat percepatan bisnis di kalangan anggotanya. Salah satu contoh adalah bisnis cebi cafe yang dikelola oleh salah satu alumni UGM yang juga anggota komunitas Tangan Di Atas.

“Kelompok mastermind adalah sebuah kelompok kecil dari berbagai disiplin ilmu dan usaha. Mereka ada yang sudah punya usaha dan ada juga yang belum punya usaha”, kataku ketika memulai ceramah tentang mastermind.

“Bagi yang belum punya usaha diharapkan bisa segera punya usaha dan bagi yang sudah punya usaha diharapkan omzetnya bisa meningkat secara signifikan”

“Syaratnya apa mas untuk jadi anggota mastermind?”

“Syaratnya ikut milis TDA Jogja. Alamat postingan ada di tdajogja@yahoogroups.com dan bagi yang mau mendaftar silahkan kirim imil kosong ke tdajogja-subscribe@yahoogroups.com. Alamat TDA Pusat ada di http://tangandiatas.com dan TDA Jogja sementara ada di http://tdajogja.blogspot.com”

“Hehehe…aku catat nih mas”

Pertemuan kopdar akhirnya harus selesai, karena hujan sudah reda, anak mbak Ratih dan anakku sudah tidur nyenyak dan perut sudah kenyang semua.