Kuliner Pakem Jogja

Salah satu direktur BUMN bertanya pada grup WA (Whatapps), menanyakan tentang Kuliner Pakem Jogja yang paling maknyus lezatnya. Akupun langsung upload foto direktur anak perusahaan yang sedang menikmati lezatnya kuliner kopi klothok Pakem.

Kusampaikan bahwa meskipun belum lama berdiri tapi tempat ini sudah langsung laris dan sangat kental dengan suasana Jogja yang adem ayem dan penuh kekerabatan.

Semua pengunjung bisa menikmati suasana malam ala Maliboro, tapi di pagi hari sampai sore. Bedanya mungkin belum adanya iringan musik dari pengamen untuk menciptakan suasana malioboro.

Kuliner kopi- klothok

Kuliner kopi- klothok

Soal selera kuliner, sudah tersedia berbagai macam menu kuliner Pakem, mulai jadah tempe, sayur lodeh, gudeg ceker sampai ke pisang goreng yang aduhai antrinya. Semua disajikan dengan cara “self service” alias prasmanan.

Halaman belakang kopi klothok

Halaman belakang kopi klothok

Pengunjung yang datang beraneka ragam, dari pesepeda mahasiswa sampai menteri, campur baur dalam suasana yang merakyat. Boleh pilih tempat duduk yang ada, baik berduaan atau rombongan, di kursi atau lesehan di lembaran tikar tanpa atap.

Suasana yang dijual memang dekat dengan suasana pedesaan, tempat duduknya yang di dekat pematang sawah, terasa menyegarkan karena hembusan angin yang semilir mendayu-dayu.

Halaman belakang kopi klothok

Halaman belakang kopi klothok

Lokasi Kuliner Pakem Jogja yang kurekomendasikan memang jauh dari mahal, meskipun bagi beberapa goweser yang biasa mangkal di Warung Ijo terasa masih kurang murah, tapi kulihat banyak juga goweser yang menjadi pelanggan kopi klothok. Kota Jogja memang hanya sekitar 16 km dari kopi klothok, kalau berkendara dari Jogja, belok kanan sebelum simpang-4 menuju Cangkringan dan Turi.

Bagi istriku, sayur yang disukainya adalah sayur lodeh dan nasi megono yang lezat. Pagi ini, aku sengaja agak siang datang, akibatnya aku kehabisan gudeg ceker dan harus antri panjang ketika ingin melahap pisang goreng.

Aku memilih halaman belakang sebagai tempat duduk dan cukup memakai bambu untuk tempat menaruh makanan. Rasanya sejuknya alam Pakem yang indah menambah selera makanku. Padahal yang dilihat hanya pematang sawah yang sempit dan mungkin beberapa tahun lagi sudah jadi rumah gedong.

Giliran bayar, hanya kejujuran yang dipertaruhkan oleh empunya warung kopi klothok. Kita tinggal menyebutkan apa yang kita makan dan minum, kasir langsung menyebut angka. Harganya dijamin murah untuk kantong wisatawan. Syaratnya pengunjung tidak boleh membawa makanan untuk di rumah. Harga yang diberikan adalah harga untuk makan di tempat.

Kapada para pengunjung kopi klothok, diminta untuk mengambil kuliner semampu perutnya saja, sehingga tidak ada makanan yang tersisa. Tidak disediakan plastik di warung kopi klothok, dengan harapan tidak ada yang membungkus makanan dengan plastik untuk dibawa pulang.

Sayang memang aku datang tidak mengajak anak-anak dan agak kesiangan datangnya. Kebetulan hari ini pengunjungnya cukup padat, sehingga lokasi parkir penuh sesak dan apalagi antri makanannya. Sangat berjubel !

Di warung lain mungkin akan banyak sumpah serapah karena sistim antrian yang tidak jelas, tapi di warung ini, meskipun pengunjung berjubel tetap muncul banyak canda tawa. Apalagi jika bertemu dengan kenalan jauh, ditanggung gurauan makin kencang di telinga.

Seusai dari kopi klothok, akupun menyempatkan diri untuk mampir di Jadah Tempe Mbah Carik Km 14. Banyak oleh-oleh yang menarik bagiku disini. Utamanya tentu Jadah tempe, sama dengan yang ada di Kaliurang hanya lokasinya yang beda. Kemudian yang kucari adalah wedang uwuh model sasetan.

Masih banyak sebenarnya “Kuliner Pakem Jogja”, tapi lebih baik kutulis di postingan yang lain,

Jadah tempe mbah carik

Jadah tempe mbah carik

 

Paguyuban Pecinta Kuliner Nusantara

Saat ini aku menjadi salah satu admin grup Kulinus, Paguyuban Pencinta Kuliner Nusantara, di facebook. Anggotanya saat ini tercatat ada 24.004 orang, sedangkan yang masih posisi mendaftar ada ratusan orang. Sengaja jumlah angotanya dibatasi, karena saat ini baru ramai pendaftar yang mengaku penggemar kuliner, tapi sering memasang foto non kuliner bahkan sampai foto para penjaja sex online. Salah satu anggota grup kulinus ini yang menarik perhatianku adalah mas Susanto Soetojo, ngakunya pedagang mie.

Mas Susanto pernah menulis begini,”Salah satu pelanggan terlama saya adalah executive chef Stefu Santoso. Beliau adalah presiden asosiasi chef profesional (ACP) indonesia”

“Wow keren !”, begitu kataku setelah membaca testimoni beliau.

Meski hanya produsen home industry, tapi pelanggan mas Susanto memang sudah merambah kemana-mana. Beliau masuk ke horeka (hotel, resto dan kafe) dan bukan kelas pasar melalui beberapa rekan yang ada di organisasi chef profesional, sehingga ketika ditanya harga jual mienya, jawaban yang diberikan melalui japri (jalur pribadi).

Ketika kutanya, “Kenapa tidak dimuat di jalum (jalur umum)?”

Ini jawabnya.”Kami melayani pengiriman ke mana saja. Kami bisa di hubungi via BBM 7D88D021 atau telp/WA 085216200333. Soal harga tidak ditampilkan di jalur umum, sesuai dengan kode etik bisnis online saja, karena bisa saja pembeli produk kami bukan pemakai langsung tapi supplier atau reseller. Kami menjual dengan harga yg sama. Baik mulai gerobakan sampai hotel bintang 5. Mulai yg order 5 kg sampai 200 kg”

Mie Hongkong Tix n Tog 01

Mie Hongkong Tix n Tog

Waktu kutanya mengapa tertarik bisnis mie ini, mas Susanto menjawab begini,”Sekitar 10 tahun yang lalu saya bekerja di management sebuah resto. Produk mentah kami banyak peminatnya dari luar, tapi pimpinan kami tidak berminat. Ya saya melihat itu sebagai peluang usaha”.

Naluri bisnis mas Susanto telah membuat bisnis mienya berkembang dan makin banyak peminatnya. Lebih lanjut mas Susanto ingin mewariskan ilmu membuat mie ini ke putra putrinya, karena lebih bermanfaat mewariskan ilmu dibanding mewariskan harta. Ilmu bisa menjadi harta dan harta belum tentu bisa menjadi ilmu yang bermanfaat.

Keluarga Susanto Penjual mie

Keluarga Susanto Penjual mie

Berdasarkan pengalamanku, para penjual mie biasanya sayang keluarga. Mungkin terobsesi dengan sifat mie yang bisa disajikan kapan saja dan dimana saja, sehingga keluarga penjual mie adalah keluarga yang harmonis, selalu siap dimana saja dan kapan saja untuk keluarga tercinta.

Hal ini terjadi mungkin karena aku hanya kenal dengan para penjual mie yang baik-baik saja, kebetulan penjual mie yang tidak baik, yang suka memakai pengawet, tidak ada yang kukenal. Jadi kesimpulan ini tidak ada dasarnya dan hanya untuk menginspirasi kita semua, agar menjadi penjual apapun, tetap punya niat baik untuk menyehatkan masyarakat dengan membuat makanan yang sehat dan jauh dari bahan-bahan berbahaya.

Selamat makan mie dengan cita rasa Indonesia, meskipun nama mienya sudah memakai bahasa Asing.

 

 

 

 

Over Rice

Di situs Over Rice kubaca “Winner of Jakarta’s Best Restaurant Awards 2007 & 2008 in Modern Asian Category by Jakarta Java Kini Magazine”, sangat meyakinkan !

Kitapun sepakat untuk memesan menu Over Rice yang menurut sebagian orang harganya mahal, tapi tetap diminati karena rasanya yang enak. Itu sebuah kejadian yang terjadi beberapa tahun lalu dan hari ini kulihat ada lagi box Over Rice di mejaku, langsung saja kusingkirkan menu lain yang ada di mejaku. Bukan aku tidak suka nasi kotak konvensional yang duluan ada di mejaku, tapi memang Over Rice yang ini masih terlihat panas dan kemudian terbukti memang masih hangat, sementara nasi kotak yang satunya sudah tidak hangat lagi.

Sebenarnya dalam dunia kuliner itu tidak dikenal menu yang mahal dan menu yang murah. Harga mahal dan murah bisa jadi relatif ketika rasa sudah berbicara. Rasa memang tidak bisa menipu, menu yang lebih mahal biasanya memang lebih nikmat rasanya, tapi ketentuan ini tidak seratus persen benar. Masih banyak warung pinggir jalan yang rasanya jauh lebih enak, lebih maknyus,  dibanding resto yang mahal.

OverRice

OverRice

Bisnis kuliner ini memang berbeda dengan bisnis lainnya. Ada sebuah tempat yang terlihat kumuh, tetapi ternyata yang datang di lokasi kuliner itu adalah orang berduit dan pecinta kuliner sejati. Mereka bisa jadi datang dari tempat yang cukup jauh, tetapi tetap datang lagi, begitu mereka berwisata di dekat lokasi kuliner tersebut.

Ayam Goreng H Soleh Pandaan salah satu contoh lokasi warung yang “nylempit” (tersembunyi), jauh dari keramaian, tetapi larisnya luar biasa. Kunci di warung ini adalah sebelum digoreng, ayamnya dimasak dulu dengan campuran air kelapa, sehingga rasanya berbeda dengan ayam di tempat lain. Jamu beras kencur juga menjadi daya tarik warung ini.

Kalau sudah begini, maka harga yang mahal, lokasi yang jauh sudah tidak berpengaruh lagi bagi pembeli. Itu sebabnya aku lebih suka menyebut harga kuliner itu “reasonable” atau tidak , masuk akal atau hanya ngejar setoran !:-)

Semahal apapun harganya, selama masih seimbang dengan kenikmatan yang didapat, maka harga jadi nomor dua. Akan berbeda dengan selera mahasiswa, senimmat apapun makanan, selama tidak terjangkau isi kantong dianggap tidak nikmat lagi. Bagaimana bisa merasa nikmat, kalau makan seporsi kemudian harus puasa dua hari 🙂

Kembali soal nasi kotak Over Rice, harga mahal dari kuliner ini menurutku memang reasonable. Lihat saja bungkus plastiknya yang memenuhi standar internasional sebagai bahan pembungkus makanan. Tertulis di bawah bungkus plastik keterangan tentang jenis plastik yang dipakai, yaitu PP (polypropylene) yang merupakan pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman, seperti botol minuman, tempat menyimpan makanan dan terpenting botol minum untuk bayi. Biasanya bahan PP dengan angka 5 berupa botol transparan yang tidak jernih.

Soal rasa, Over Rice juga sangat memanjakan lidah, terutama yang sedang lapar maupun yang sudah tidak begitu lapar. Tentu makanan ini kurang cocok bagi kantong mahasiswa, tapi bagi mahasiswa yang berduit tebal, harga pasti tidak menjadi kendala untuk menyantap Over Rice.

OverRice

OverRice

Empek-empek dan Mie Celor Palembang

Kalau bicara kuliner Palembang, maka yang terbersit di kepala kita pasti empek-empek dan Mie Celor Palembang. Empek-empek adalah makanan khas Palembang yang sudah meraja lela ke berbagai kota besar dan pelosok-pelosok kota kecil. Hampir di setiap food court besar pasti ada stand untuk empek-empek. Dengan ditemani semangkuk kecil saus berwarna hitam kecoklat-coklatan, beberapa irisan kecil timun dan sedikit mie kuning, maka lengkaplah sajian di depan kita. Saus pedas itu saat ini sudah tidak sepedas dulu, bahkan ada yang mempunyai rasa lain, misalnya diberi nuansa manis.

Saus hitam kecoklatan ini dibuat dengan cara air didihkan, kemudian diberi sedikit gula merah, cabe rawit tumbuk, bawang putih, udang ebi dan garam. Rasa pedas diperlukan di campuran saus ini agar nafsu makan menjadi meningkat dan dua kapal selam empek-empek bisa dengan tenang masuk ke perut.

Makanan khas Palembang empek-empek, sebenarnya tidak bisa disebut makaan asli Palembang, karena hampir semua daerah di Sumatera Selatan menjadikan empek-empek sebagai kuliner andalannya, namun bila kita tanya setiap orang yang kita jumpai, maka kebanyakan mereka menyebut empek-empek adalah makanan khas Palembang.

Empek-empek ada'an

Empek-empek ada’an

Selain empek-empek, maka satu kuliner khas Palembang lagi adalah Mie Celor. Kita biasanya mengasosiasikan mie celor ini dengan mie telor, karena mie yang disajikan memang terlihat sembulan beberapa potong telor (biasanya dua potong). namun sebenarnya mie celor adalah bahasa Palembang yang artinya Mie Rebus. Khas dari Mie Celor adalah kuahnya yang tidak sama dengan mie rebus di daerah lain. Ada santan di Mie Celor Palembang. Rasanya ? Jangan ditanya lagi, pasti seporsi mie celor akan begitu leluasa memasuki perut kita.

Mie Celor 16 Ilir H Syafei Z

Mie Celor 16 Ilir H Syafei Z

Dua jenis kuliner inilah yang menurutku harus dinikmati setiap kita berwisata ke Palembang. Saat ini kalau mencari empek-empek, maka yang standard diburu adalah empek-empek Candy. Outletnya sangat banyak bertebaran di Palembang dan pelayanannya cukup cepat. Para penyajinya juga tidak pelit kalau diajak bicara tentang palembang.

Empek-empek bahan dasarnya terbuat dari ikan dan sagu. Kalau menurut si empunya cerita, ikan sebagai bahan dasar dari empek-empek muncul karena banyaknya tangkapan ikan yang hanya diolah dengan cara jadul yaitu digoreng atau dibakar. Ternyata setelah diolah menjadi empek-empek, maka rasa dan bentuknya lebih menarik. Berkembangnya jaman, akhirnya membuat empek-empek menjadi menu tersendiri seperti juga tekwan, laksan ataupun celimpungan yang berbahan dasar empek-empek tetapi dengan model pengolahan yang berbeda dan kombinasi yang berbeda juga.

Pendamping empek-empek disebut Cuko, dipercaya dapat melindungi kesehatan gigi dari karies (kerusakan lapisan email dan dentin). Ini disebabkan karena dalam setiap liter Cuko biasanya terdapat sekitar 9 sampai 13 ppm fluor yang berfungsi melindungi gigi dari karies.

Jenis pempek ada bermacam-macam, antara lain pempek kulit ikan, pempek lenjer, pempek bulat (atau terkenal dengan nama “ada’an”), pempek telur kecil, pempek pistel (isinya irisan pepaya muda rebus yang sudah dibumbui) dan pempek keriting. Dari semua jenis empek-empek, maka yang paling terkenal adalah “pempek kapal selam”, bentuknya tidak mirip kapal selam, tapi begitulah mereka menyebutnya. Isi dari empek-empek kapal selam adalah telur ayam dan kemudian digoreng dalam minyak panas.

Mie Celor 16 Ilir H Syafei Z

Mie Celor 16 Ilir H Syafei Z

Bila bicara Mie Celor, maka siapapun yang ditanya jawaban pertama adalah Mie Celor 26 Ilir Palembang. Inilah warung khusus Mie Celor yang dikelola oleh H. Syafei Z. Mie Celor atau mie rebus dibuat dari mie biasa tetapi dengan kuah santan ditambah kaldu ebi dan taoge. Kalau belum terbiasa di warung itu, maka pasti kesan kumuh yang muncul duluan, tetpai kalau sudah masuk warungnya, maka kesan itu sudah berubah menjadi kesan lain.

Mie Celor 16 Ilir H Syafei Z

Mie Celor 16 Ilir H Syafei Z

Warung kecil itu penuh dengan penikmat Mie Celor dan sudah ramai sejak pagi, jadi kalau kita menginap di hotel, sebaiknya cukup makan buah dan minum air saja di hotel dan kemudian sarapannya di warung Mie Celor 26 Ilir H. Syafei Z ini. Harganya di tahun 2014 seporsinya 12 ribu rupiah. Cukup murah dan terjangkau kantong, namun disarankan cukup makan seporsi saja. Bila kita menambah porsi, maka bisa terjadi kelezatan porsi pertama akan tertutupi oleh kekenyangan di porsi ke dua.

Masih banyak kuliner di Palembang. Silahkan berburu lagi kuliner di Palembang, kata kuncinya hanya satu “Kuliner Palembang”, maka akan bermunculan berbagai macam jenis kuliner di Palembang.

Salam sehati.

Mie Celor 16 Ilir H Syafei Z

Mie Celor 16 Ilir H Syafei Z

Kuliner Seputar Halmahera

Saat memasuki daerah MALUT (Maluku Utara), maka yang terpikir pertama kali adalah “Kuliner seputar Halmahera”. Langsung gugling dulu di internet untuk mencari kuliner apa yang bisa dilahap di lokasi warung yang akan dituju. Harus yang berkesan agar bisa ditulis di Blog Mie Sehati !:-)

Teman-teman TDA (Tangan Di Atas), begitu melihat statusku ada di Maluku Utara, langsung memberi nama kontak yang bisa dihubungi di Halmahera. Akupun sukses ngobrol dengan teman TDA Halmahera. Biasa, setelah bicara kesana-kemari dulu baru kemudian bertanya tentang Kuliner seputar Halmahera. Ternyata banyak info yang masuk ke inbox, baik dari teman TDA maupun dari teman-teman kuliner yang lain.

Kuliner Ikan ala Halmahera

Kuliner Ikan ala Halmahera

Yang paling banyak ternyata info seputar nasi Kuning ala Halmahera dan air Guraka. Menu Nasi kuning selalu mengingatkan kawanku akan suasana ulang tahun di Jawa dulu, sekarang hampir tiap hari dia bisa melihat Nasi Kuning di depan mata. Kuliner ulang tahun itu sendiri sudah kucoba waktu aku transit di Lounge Garuda Makassar. Mumpung gratis akupun mencicipi semua makanan ala Halmahera itu di Makassar. Nasi kuning dan air Guraka atau kalau di tempat lain disebut sebagai minuman Bandrek.

Nasi Kuning Al Hikmah Jln Nasution Ternate

Nasi Kuning Al Hikmah Jln Nasution Ternate

Dari searching di internet, kutemukan resep air Guraka (bandrek) yang kuminum di Makassar sebagai berikut :

Bahan :

– 500 gram Gula Merah
– Air 2 liter
– 100 gram Jahe Merah
– 100 gram Kenari ( bahan baku khas Maluku )

Cara Membuat :
1. Jahe merah yang ada dikupas, dibakar dan dimemarkan.
2. Kenari direndam air dingin, kupas, dan iris melintang.
3. Jahe , gula merah dan gula tersebut direbus hingga mendidih dan saring airnya.
4. Terakhir tuangkan satu sendok teh kenari.
5. Sajikan saat panas

Malam hari di Halmahera, kunikmati air Guraka itu di tepi pantai, di trotoar jalan yang dulunya adalah laut yang ditimbun dan dijadikan jalan. Makanan yang disajikan selain minuman air Guraka adalah pisang goreng dengan cocolan sambal plus ikan teri. Kombinasi makanan seperti itu hanya ada di Halmahera kayaknya. Harganya murah dan rasanya boleh boleh dicoba. Inilah pisang goreng khas Halmahera, kriuk-kriuk pisang tipis kering atau pisang goreng biasa yang lebih tebal. Semuanya pakai cocolan sambal.

Makin ngejreng ketika temanku membawakan durian Halmahera. Kecil dan cukup cocok dengan suasana malam di tepi pantai. Harga per butir durian sekitar 20-30 ribu, sementara air Guraka hanya 5.000 rupiah.

Didatangi pengamen keren dari SMAN I Halmahera Ternate

Didatangi pengamen keren dari SMAN I Halmahera Ternate

Baru asyik makan, serombongan anak muda menghampiri dan bernyanyi menghibur kita yang sedang nongkrong sambil makan minum. Rupanya mereka rombongan anak SMAN I yang sedang mencari dana untuk PENSI. Wah kreatif juga mereka mencari dana. Suaranya juga merdu, tidak asal buka mulut. Sekolah ini katanya punya alumni yang ngetop, misalnya Fadel, Gafur dan lain-lain.

Nasi kuning pernah kurasakan yang cukup enak di kota Manado. tapi di Halmahera ternyata nasi kuningnya lebih lembut. Ikan yang disajikan juga lebih pas ukurannya. Lokasi warungnya ada di Jalan AH Nasution  nama warungnya Rumah Makan Al-Hikmah, Ternate. Anehnya lokasi ini sangat terkenal di internet tetapi kurang banyak orang yang tahu lokasi warung ini.

Penjaga warungnya juga terheran-heran ketika tahu kita adalah orang Jogja yang datang dari Jakarta. Padahal harusnya dia tidak heran karena teman-teman komunitas Bango Mania pernah mampir disini dan memberikan penghargaan pada warung ini. Kalau aku mengenalkan sebagai anggota Kulinus dan juga pernah aktif di Bangomania, mungkin sang penjual akan beda penyambutannya.

Al Hikmah Ternate

Al Hikmah Ternate

Porsi nasi kuning di Warung Makan Al-Hikmah cukup besar, sehingga tidak perlu membeli lauk tambahan. Lauknya sudah lengkap dan sudah cukup banyak. Aku yang nambah paha ayam, agak menyesal, karena jadi kebanyakan porsi yang kulahap.

Makanan lain yang juga khas Halmahera tetapi tidak sempat kucicipi adalah Papeda, bentuknya kayak lem kanji, sop singkong (?) atau parutan singkong (suami?). Kalau masakan ikan di Halmahera aku sempat mencobanya dengan bumbu asam manis, rasanya kurang lebih sama dengan daerah lain. Soal Kepiting, maka di Halmahera ini aku melahap kepiting Kenari meski cuma sedikit.

Kepiting Kenari Halmahera

Kepiting Kenari Halmahera

Pulau Ternate dan Tidore adalah salah satu tempat yang menjadi pusat penyebaran budaya di Indonesia. Daerah ini dahulu lebih maju dibanding daerah lain, karena masyarakatnya yang cinta laut dan lokasi pulau ini memang kecil dibanding lautnya yang begitu luas. Kalau di Jogja, pulau Ternate ini mirip daerah Pakem ke atas, jalannya naik turun dan ada gunung Gamalama di tengah pulau. Bagi penggemar gowes pasti langsung gatal kakinya melihat jalan yang begitu mulus dan tidak hanya datar-datar saja. Ada tanjakan, turunan dan jalan yang berkelok-kelok, semuanya membuat ingin turun dari mobil dan beralih ke gowes sepeda.

Halmahera, aku cinta lokasinya dan cinta Kuliner Halmahera 🙂

Lokasi Gambar Mata Uang 1.000 Halmahera

Lokasi Gambar Mata Uang 1.000 Halmahera

 

Mata Uang 1000

Mata Uang 1000

Raminten, kuliner yang “berbeda”

Menjadi berbeda belum tentu menjadi yang terbaik, tetapi yang terbaik biasanya memang berbeda.

“Yang namanya angkringan, saat ini sudah punya branded tersendiri di masyarakat. Jadi kalau mas Robby ingin angkringan Cekli-nya lebih hebat lagi ya usahakan angkringan Cekli berbeda dengan angkringan yang lain”, kataku saat diskusi dengan Owner Angkringan Cekli saat meluncur menuju Resto Raminten.

“Angkringan Cekli memang berbeda dengan angringan yang lain. Minimal menunya lebih beragam dan rasanya bisa dicoba. Ada hotspot juga. Bisa dipakai untuk acara pertemuan dan pernah dipakai oleh salah satu penyedia layanan seluler yang besar. Pernah juga dipakai ajang NoBar pertandingan besar”

Tak terasa obrolan dengan Owner Angkringan Cekli telah membawa kita di depan resto Raminten. Resto baru dengan model layanan yang “berbeda”.

Mereka menamakan para pelayan resto ini sebagai kumpulan anak-anak lulusan SLB, sehingga kalau pesanan makanan terlambat datang dimohon untuk dimaklumi dan jangan dimarahi.

Sajian menunya juga sangat bervariasi dan mengingatkan kita akan nostalgia masa kecil dulu. Cobalah wedang beras kencur dan rasakan “taste” yang berbeda dari wedang beras kencur di resto yang lain.

Sajian nasi liwet maupun nasi goreng juga berbeda penampilannya. Ada paket untuk single dan dobel, artinya nasinya banyak atau nasinya sedikit saja. Dijual juga gudir, yang dulu sering kita jadikan sebagai mainan saat kita kecil. Disini gudir adalah puding yang ditampilkan dalam bentuk yang berbeda.

Di ruang depan, sebelum masuk ke ruang makan, disediakan beberapa kursi kosong. Gunanya seperti kursi yang sering disediakan di resto Pizza, yaitu sebagai ruang tunggu karena semua kursi di ruang makan sudah terisi penuh.

Warung ini memang tak kenal henti, sehingga memudahkan para pengunjung untuk memilih jam makan. Kalau ingin antri ya dipersilahkan duduk di ruang tunggu, kalau ingin tidak antri harus benar-benar cermat dengan jam makan yang dipilih, misalnya milih jam 11.00 siang atau jam 15.00 sore.

Uniknya lagi, di bawah resto ini ternyata ada kandang kuda balap yang terawat rapi kandangnya sehingga tidak menimbulkan aroma yang tidak sedap. Pengunjung dibuat merasa sedang berada di sebuah kawasan yang unik ketika suara kuda itu terdengar jelas di telinga mereka.

Es krim di Raminten juga boleh dicoba rasanya. Kecuali bagi yang sudah kegemukan, sebaiknya hindari makan es krim di Raminten, atau akan ketagihan makan es krim disini.

Satu hal yang mungkin menjadi hal yang tidak disukai oleh beberapa orang adalah aroma menyengat yang datang dari ramuan atau “sajen kembang” yang berada di setiap ruangan. Bila alergi terhadap aroma ini, maka acara makan bisa berubah menjadi acara yang sangat tidak mengenakkan.

Aroma “klenik” khas Jawa sangat terasa, bahkan di ruang sholat yang cukup gelap, aroma ini masih terasa menyengat, sehingga yang muncul bisa jadi bukan kekhusukan beribadah tetapi rasa lain yang muncul.

Dengan kelebihan dan kekurangannya, resto ini patut dicoba untuk mengetahui seberapa cocok kita dengan penyajian dan pelayanan di resto Raminten yang “berbeda”.

Silahkan pilih sendiri selera kuliner kita.