Supercode Green Entrepreneurship 2011

supercode

Inilah ajang lomba jadi pengusaha di kalangan mahasiswa seri ke tiga. Diadakannya lomba ini di tahun ke tiga membuktikan bahwa ada kesinambungan dari panitia yang satu ke panitia yang lainnya. Aku sendiri baru ikut aktif di seri ke 3 ini.

“Tahun lalu hadiah untuk Juri lebih sederhana daripada tahun ini mas”, begitu kata mas Sri Jabat yang pada hari itu kebagian sebagai salah satu pemberi materi pada para pengusaha yang hadir di acara ini.

Dari sekian banyak peserta, pada hari itu hanya tampil yang masuk final yaitu tiga grup dari UGM (2 grup) dan UII (1 grup).

Dua dari tiga dewan Juri latihan narsis

Dua dari tiga dewan Juri latihan narsis

Peserta finalis pertama membawakan business plan berupa usaha “Ice Cream Banana Yoghurt”. Salah satu wakil dari grup ini dengan lancar bercerita tentang segmentasi pasar, positioning maupun pola pemasarannya. Semua disajikan dengan cukup lengkap.

Sayangnya pertanyaanku tidak berhasil memancing mereka untuk lebih terbuka memandang prospek usaha ini.

“Kalau ice cream ini anda jual ke warung dengan harga 2.000 rupiah dan di warung kemudian dijual dengan harga 5.000, maka kalau ada yang langsung beli ke warung anda, berapa harga yang anda pasang?”, begitu pertanyaanku.

Memang akan banyak jawaban dari pertanyaanku ini. Namun sebenarnya yang kuharapkan adalah jawaban yang lebih luas daripada yang dijawab oleh presenter.

Kalau kita ingin usaha kita berkembang dengan memanfaatkan kekuatan agen, maka harga jual di tempat kita harus sama dengan harga eceran etrtinggi yang kita tetapkan.

Dalam hal ini kalau kita patok HET adalah 5.000 rupiah, maka kalau ada yang beli langsung ke kita harganya harus tetap 5.000 rupiah. Sementara itu akan lebih baik kalau untuk agen, kita beri keleluasaan untuk menjual dengan harga dibawah 5.000.

Dengan demikian pecinta Ice Cream kita ini akan loyal pada agen kita. Mereka tahu bahwa harga di tempat kita adalah sama dengan harga di agen, sementara di agen kadang ada potongan khusus, ada diskon tertentu sehingga jatuhnya harga bisa lebih murah dari di tempat kita.

Pola pikir ini akan membuat agen membesar dan penjualan di tempat kita akan biasa-biasa saja. Energi akan lebih optimal dengan memperbanyak agen daripada memperbesar toko kita.

Jus Madu Ekstrak Keong Emas

Jus Madu Ekstrak Keong Emas

Penampilan kedua adalah “Jus Madu Ekstrak Keong Emas”. Sebuah terobosan baru dalam melihat bencana sebagai peluang. Idenya sangat bagus dan orisinil. Sayangnya usaha ini kelihatannya hanya diperuntukan sebagai pemenuhan kriteria lomba saja, tidak untuk diteruskan menjadi sebuah usaha yang mendatangkan keuntungan besar.

Mereka belum memikirkan ketersediaan pasokan keong emas, padahal itu adalah nilai jual utama mereka. Belum terpikirkan untuk membudidayakan keong emas agar mereka tidak pernah kehabisan stock. Bis adibayangkan jika hama keong emas berakhir, maka mereka akan kehilangan pasokan bahan utama jualan mereka. Artinya usaha mereka akan berhenti total.

Peserta lomba yang terakhir memamerkan kelihaian mereka dalam membuat “Fermentasi Sawi Putih”. Sebuah pertanyaan dari Juri cantik di sampingku rupanya belum terlintas oleh mereka.

“Kalau anda ahli dalam fermentasi sawi putih, pernahkah terpikir untuk memasok fermentasi sawi putih  ke restoran yang memajang menu sawi putih. Pernahkan anda bandingkan dengan kalau anda perlu menyediakan nasi, lauk dll disamping sawi putih yang anda sajikan?”

Rupanya presenter belum siap dengan pertanyaan seperti itu, sehingga tetap bertahan dengan jualannya yaitu nasi plus lauk dan bonus sawi putih.

Satu hal yang didengung-dengungkan oleh mereka adalah makanan yang bersifat ramah lingkungan, bernuansa “GREEN” dan itu merek atunjukan dengan menu sehat sawi putih. Sayangnya mereka lupa bahwa ekmasan yang mereka pakai belum mencerminkan nuansa GREEN.

Memang sangat sulit untuk menciptakan nuamsa GREEN ini, bahkan mie sehati yang sudah berwarna HIJAU, masih dalam taraf menuju ke makanan yang bernuansa GREEN.

Meski demikian secara keseluruhan acara ini cukup berhasil dan sebelum pulang aku sempat menyampaikan sebuah usulan pada salah satu mahasiswa yangterlibat dalam acara ini.

“Ini event yang sangat bagus tapi panitia lupa akan kebesaran nama UGM. Sebaiknya untuk tahun depan diadakan dalam skala nasional, untuk seluruh mahasiswa Indonesia. Dengan demikian gaungnya akan lebih luas dan sponsor akan tertarik untuk memberi dana ke acara ini”

Sebagai salah satu pemberi materi dan Juri di acara ini, aku sangat bersyukur dapat bertugas dengan baik. Alhamdulillah. Sampai jumpa di tahun depan.

Salam sehati.

Piala Supercode