Wirausaha itu ya ACTION bukan bicara saja

Pak Ato, teman di Cikarang, pernah akan mengarang buku berjudul APH (Action-Pikir-Hitung). Idenya sederhana saja, kira-kira sebenqarnya pak Ato hanya ingin bilang ;”Wirausaha itu ya ACTION bukan bicara saja”.

Banyak kasus yang ditemui pak Ato, pendiri Kupat Tahu Bandung, yang menunjukkan kalau para calon wirausahawan yang gagal menjadi wirausahawan karena terlalu lama memikirkan bisnisnya, menghitungnya dengan cermat tapi lupa melaksanakan usahanya, alias hanya dipikir dan dihitung tetapi tidak pernah ACTION.

Pernah ditemui pak Ato juga pewirausaha yang begitu bersemangatnya membuka usaha warung soto sampai lupa belum punya kokinya. Ini tentu juga tidak begitu benar, karena sehebat apapun usaha kita, tetap memerlukan sedikit pemikiran agar tidak terlalu salah hasilnya.

Cermat diperlukan, tajam juga diperlukan, tapi perlu diingat bahwa kecermatan dan ketajaman itu menjadi sia-sia kalau tidak pernah dipraktekkan. Ibaratnya jago pedang yang mempunyai ribuan jurus dan sebuah pedang yang tajam tetapi belum pernah bertarung. Tentu bisa dibayangkan seperti apa jagoan pedang itu.

Ada juga tamsil yang lain. Wirausahawan itu seperti perenang. Kalau hanya diteorikan pasti lulus semua, tapi tanpa praktek semua teori renang itu jadi tidak bermanfaat. Masih mending mereka yang belum bisa berenang dan nekad masuk ke kolam. Minum air kolam pasti, tapi pandai berenang juga lebih dijamin dibanding yang ahli teori berenang tapi belum pernah berenang.

Milis Tangan Di Atas adalah gudangnya ilmu wirausaha, jadi dengan ikut milis pasti akan banyak diserap ilmu dari mereka yang sudah mempraktekkan teorinya. Kita bisa menghemat sumber daya dengan membaca pengalaman atau wejangan mereka.

Pagi ini kubaca tulisan mas Try di milis Tangan Di Atas. Buat yang belum ikut milis Tangan DI Atas, silahkan menikmatinya.

+++

Penghujung tahun sudah di depan mata, bagaimana dengan rencana-rencana atau target2 yg telah di susun tahun kemarin ? Apapun hasilnya niscaya anda semua sudah maksimal bekerja keras untuk mewujudkannya.

Sebagai pemimpin bisnis kita seolah ” di haruskan ” membuat serangkaian bisnis plan, strategic plan, di awali dengan serangkaian diskusi, analisa, meeting dll, yang lucunya kadang2 seperti hanya mengulang2 apa yg pernah di rencanakan sebelumnya.

Apa yg sebenarnya terjadi ? ada istilah NATO alias no action talk only, atau kalau di manajemen organisasi istilah kerennya ” discussion paralysis” organisasi yg lemah dlm menggerakan roda aktifitasnya, karena terlalu banyak diskusi tanpa ada yg berani mengambil keputusan.

Sejarah mencatat, pemimpin2 besar adalah pemimpin yg berani take risk dg keputusannya. Ada jargon ” do not rock the boat ” jangan mengguncang perahu yg mengapung tenang, tetapi tak ada pilihan untuk melajukan perahu tanpa kita mendayungnya tanpa ada guncangan.

Peran utama pemimpin adalah menentukan arah dan memecahkan masalah, bukan hanya menghimbau apalagi mengeluh 🙂 Keputusan senantiasa berurusan dengan masa depan yg kita tidak tahu pasti apa yg akan terjadi. Hal ini yg membuat kita gamang ,ragu dan takut mengambil keputusan.

Apapa pun itu, toh sebagai pemimpin bisnis kita harus ambil keputusan, bukankah kondisi anda saat ini, adalah hasil dari keberanian anda memutuskan tiga atau lima tahun yang lalu ?

Salam

Follow twitter saya : @tryatmojo

+++

Jadi benar apa kata judul artikel ini “Wirausaha itu ya ACTION bukan bicara saja!”

Mie Ayam Sehati Jogja : EMIA !:-)

Ada label baru di gerai Mie Ayam Sehati yang dibuka di Jogjakarta. Acara pembukaan direncanakan pada tanggal 14 September 2010, sesuai janji dalam mastermind cikarang 1. Namun belum dibuka sudah mendapat beberapa happy problem.

Yang pertama permintaan dari teman-teman dari Temanggung untuk mendapat bimbingan pelatihan membuat mie ayam dan cara pemasarannya. Mereka bersedia membayar dengan harga khusus untuk acara ini. Istriku yang tidak tegaan pasti langsung mengabulkan permintaan mereka untuk berbagi ilmu bisnis mie ayam Sehati | Perto group.

Happy problem yang kedua adalah pesanan 20 porsi pada saat pelatihan diadakan. Jadinya harus dibuat dua acara pada waktu yang bersamaan. Acara pertama tentu acara pelatihan pembuatan mie ayam dan acara kedua adalah pemenuhan order 20 porsi mie ayam Sehati : EMIA !:-).

Suasana pelatihan di bulan puasa ini tentu sangat berbeda dengan pelatihan yang pernah dan biasa diadakan. Saat menggoreng pangsit misalnya, biasanya peserta yang kebagian menggoreng suka dibikin jengkel dengan ulah para peserta lainnya yang terus menyantap hasil gorengannya. Kalau sudah jengkel, maka makin banyaklah orang yang membuat jengkel sebagai salah satu bahan gurauan sambil menanti acara puncak, yaitu merasakan nikmatnya mie ayam Sehati.

Para peserta angkatan ke – 11 ini sangat santun dan tetap semangat meskipun puasa dan telah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari Temanggung ke Jogjakarta. Mereka dua pasang pasutri yang begitu antusias mencatat setiap kalimat yang dianggap patut dicatat.

“Setengah kilogram tepung bisa menjadi berapa mangkuk ya?”, begitu misalnya salah satu pertanyaan dari ibu-ibu

“Biasanya sekitar 9 mangkuk”, jawab istriku

“Wow … itu gak usah dicatat, ada di blog mie sehati. Satu kilogram tepung untuk 18 mangkok, berarti setengah kilogram tepung setara 9 mangkuk”, sela sang suami yang selalu sigap memperhatikan apa yang ditanya oleh istrinya.

Canda ria pasutri itu membuat suasana panas di kota Jogja seakan tidak terasa lagi. Indahnya rasa kebersamaan mereka membuat ada sedikit rasa iri. Subhanallah. Sungguh indah belajar mie bersama-sama dan nanti membuka gerai mie ayam setelah sama-sama sepakat dengan tujuan membuat gerai mie ayam.

Mie Ayam Sehati |Perto Group ini memang berbeda dengan model waralaba yang sangat banyak bertebaran di Indonesia. Tidak ada kewajiban memakai nama Perto ataupun Sehati. Pemilik gerai mie dibebaskan untuk berkreasi dengan nama yang menurut mereka paling asyik didengar dan bisa mendatangkan pengunjung yang berlimpah ke gerai mie mereka.

Bulan lalu, tidak sampai seminggu setelah mengikuti pelatihan semacam ini, maka para peserta pelatihan langsung membuat gerai mie ayam baru, itulah Mi Jawara Sehati|Perto Group yang langsung laris manis.

Sukses tidaknya bisnis makanan memang sangat ditunjang oleh kualitas makanan yang disajikan dan baru kemudian model pelayanannya. Seberapapun hebatnya sang pemasar mie, kalau produknya sendiri tidak disukai konsumen, maka mereka hanya akan datang sekali dan akan mengakibatkan tidak datangnya banya orang karena propaganda negatip mereka.

Hal inilah yang menyebabkan para pemilik gerai mie ayam sehati harus melalui pelatihan yang optimal agar mereka benar-benar menguasai ilmu membuat mie. Pemilik gerai mie ayam memang wajibmenguasai seluruh proses pembuatan mie ini, karena bila karyawan yang lebih mengetahui akan membuat pemilik warung sangat tergantung pada pekerjanya.

Dengan menguasai ilmu pembuatan mie ini , maka pemilik akan dapat dengan mudah mengganti pekerja yang keluar dari pekerjaannya karena berbagai alasan. Tahun-tahun pertama berwirausaha biasanya diisi dengan banayk masalah tentang sumber daya manusia yang keluar masuk.

Tahun pertama juga diisi dengan belum untungnya usaha yang dirilis, namun sudah didapat peta pasar mi ayam di lokasi watrung didirikan.

Selanjutnya terserah anda. Mau ikutan membuka lapangan usaha baru atau masih berkutat dengan lapangan yang sudah ada? Semuanya baik asal dikerjakan dengan penuh hati.

Jadi inget dengan ucapan mas Amril, “Mie Sehati, nyangkut di mulut dan lengket di hati” (begitu kira-kira makna ucapan mas Amril)

Yang penting untuk Mie Ayam Sehati di Jogjakarta ketambahan label baru EMIA : EnakNya Minta Ampun !:-)

+++

+++