Ada apa di Brebes

Seusai menempuh perjalanan Jakarta Brebes, maka yang muncul adalah sebuah pertanyaan,”Ada apa di Brebes?”, maksudnya biar setelah ini aku bisa menulis tips mudik Jakarta Brebes.

Tidak perlu berpanjang lebar, bertanya kesana kemari, temanku langsung maklum akan apa yang kucari. Mereka segera mengajak aku ke sebuah toko telur asin “Lina Pandi”, sebuah toko dekat jembatan dan alun-alun kota Brebes.

“Apa kelebihan toko ini?”, kataku

“Di toko ini nanti bisa dirasakan betapa enaknya telur asin dari Brebes. Rasanya berbeda dengan di tempat lain yang menulis di tokonya sebagai toko yang pertama kali berjualan telur asin”, kata kawanku.

Aku jadi ingat saat beli klepon Wahyu di ujung tol Surabaya Gempol. Semua penjual klepon memasang merk Wahyu dan menuliskan sebagai klepon paling jhoz di Surabaya. Rupanya kebiasaan penjual memang selalu begitu. Di Jogja ada Gudeg, di Solo ada tengkleng dsb, semuanya menganggap dirinya yang paling unggul, paling nomor satu.

Di bungkus telur asin kulihat ada catatan cara memasak telur itu, tapi aku hanya membacanya selintas saja. Begitu sampai di Jakarta, aku baru ngeh, ternyata aku belum tuntas mempelajari cara memasak telur asin ini.

Telur asin mentah Brebes

Telur asin mentah Brebes

Aku tidak memperhatikan bahwa ada tanggal yang tertera di bungkus telur asin mentah itu. Tertulis kalau telur asin itu dibuat pada tanggal 9 Juli 2015, kemudian ada tulisan digoreng pada tanggal 16 Juli 2015, rasa asin sedang tanggal 21 Juli 2015, asin berminyak 29 Juli 2015.

Kawanku memberitahuku kalau tanggal itu maksudnya adalah tanggal yang menentukan kualitas telur atau sifat dari telur. Misalnya digoreng pada tanggal sebelum 16 Juli, maka seperti goreng telur biasa, tapi kalau setelah 21 Juli, maka akan muncul sifat asin sedang pada telur yang digoreng.

Rupanya untuk toko Linda, tidak semua telur ada pada saat kudatangi, sehingga akupun diantar ke toko lain. Namanya toko Tjoa, jadi ketika kutanya pada temanku,”mau kemana lagi kita?”

“KETJOA”, jawab temanku yang kemudian tertawa sendiri.

“Ke toko Tjoa maksudnya!”

Telur asin Tjoa

Telur asin Tjoa

Toko telur asin Tjoa mengklaim sebagai toko yang menjual telur asin istimewa di Brebes. Akupun bertanya pada temanku, apa keistimewaan toko ini dibanding toko yang lain, maka sambil tertawa temanku menunjuk pada satu kursi kosong yang di depannya ada meja dan sepintas lalu suasananya seperti tempat agen travel.

“Jadi bila cocok dengan rasa telur disini, kita bisa pesan via telepon dan akan diantar ke alamat tujuan, karena toko ini juga merangkap sebagai agen travel”, kata temanku terbahak-bahak.

Di toko Tjoa ini terlihat memang semua jenis telur ada dan siap hantar atau siap diambil. Usai membeli telur disini, perjalanan dilanjutkan ke tempat penjual tahu khas Tegal. Sedikit agak jauh lokasinya tetapi masih di dekat Brebes juga.

Tahu murni Tegal

Tahu murni Tegal

Inilah toko Tahu Tegal, tertulisnya Tahu Murni Putra makanan khas Tegal. Masuk ke lokasi toko, terlihat para karyawannya membungkus beberapa kotak tahu. Ketika kita pesan jenis tahu yang istimewa, mereka langsung berkata sedang kosong dan perlu waktu untuk memasaknya.

“Lha itu apa mbak ?”

“Itu milik orang lain, sudah dipesan pak”

“Gini saja mbak, orang lain itu disuruh tunggu lagi, bilang sama dia kalau tahunya masih belum masak dan tahu yang sudah masak itu biar kubawa pulang. Enak kan?”

“Wah enak untuk bapak, saya kan dimarahi nanti”, jawab mbaknya dengan tersenyum

“Lho yang dimarahi kan embak bukan saya, gakpapa toh?”

Kitapun tertawa bersama, mbaknya tertawa begitu juga para karyawan yang mendengar gurauan temanku.

Perjalanan masih berlanjut ke toko Pia yang paling istimewa di Tegal. Inilah perjalanan ke toko rekomended sebelum kembali ke Jakarta.

“Kenapa toko pia ini direkomendasikan ke kita? Apakah toko ini memang yang nomor satu disini ?”, kataku.

“Inilah toko satu-satunya disini, jadi sangat rekomended !:-)”

Telur asin asap

Telur asin asap

Perjalanan ke toko Mutiara Pia dan roti di Tegal akhirnya menutup perjalanan Jakarta Brebes sebelum hari mudik tiba. Sekarang masih sepi di jalan, tapi di hari Minggu, 11 juli 2015, kudengar kabar kalau untuk membayar tol perlu antri sepanjang 8 km. Jadi Jakarta Brebes 3 jam, tapi antri keluar tol sendiri mungkin sudah berjam-jam 🙂