Ke Bantul ? Ada warung ENAAK tuh

“Mau jalan-jalan ke Bantul? Ada warung ENAAK tuh. Bisa dipakai untuk mencoba rasa lain dari warung yang banyak bertebaran di Bantul”.

Warung Enaak (5)

Warung Enaak

Benar di bantul memang agak kesulitan untuk mencari warung yang nyaman, ada tempat sholat yang luas dan bersih serta toilet yang juga luas dan bersih.

Warung Enaak

Warung Enaak

Maklum, meskipun aku tinggal di Bantul, tetapi sangat jarang main ke Bantul selatan. Aku lebih sering main ke Kotamadya Jogyakarta, yang hanya beberapa meter saja dari rumahku.

Memang letak rumahku sangat dekat dengan perbatasan Kodya Jogyakarta dengan Kabupaten Bantul, sehingga lebih sering melintas jalan-jalan di kodya dibanding yang di Bantul. bahkan kalaupun aku sepedaan lebih sering ke wilayah Kabupaten Sleman.

Warung Enaak (3)

Warung Enaak (3)

Warung ENAAK ini menarik karena konsepnya yang memanjakan tamu. Ada lokasi makan yang modelnya lesehan dan model duduk di kursi, baik kursi biasa atau yang model sofa. Ada fasilitas hotspot gratis juga, sehingga bagi yang ingin tetap terhubung ke dunia socmed (social media) tetap dapat eksis disana.

Meskipun kecepatan internetnya biasa-biasa saja, tapi cukup memadai untuk sekedar baca email atau chatting. Kalau untuk melihat film di Youtube mungkin belum memadai, tapi cukuplah untuk selingan menunggu datangnya pesanan makanan minuman kita.

Dari berbagai menu yang ada, aku memilih menu “Gulu (sapi) Bakar madu” dan rasanya ternyata tidak mengecewakan. Harganya juga cukup reasonable.

Dagingnya cukup empuk dan langsung lepas dari tulang begitu kita sentuh. Semoga kalau ada yang datang setelah membaca tulisan ini juga mendapat daging seperti yang kurasakan hari ini.

Biasanya aku memang lebih suka daging bakar dan bukan daging bakar madu, tapi ternyata lumayan oke juga rasanya. Ada rasa bakar yang manis. Bagi cewek-cewek yang sudah manis, mungkin tidak perlu pesan yang pakai madu, kecuali ingin tambah manis (guyon mode : ON).

Bagi yang punya akun di foursquare, bisa melihat lokasi RM Enaak ini disini.

Kenapa Warung Mie Ayam terus bermunculan ?

Resto mie ayam baru di Cawang Jakarta Timur

Resto mie ayam baru di Cawang Jakarta Timur

Saat jalan-jalan di seputaran Cawang – Jakarta Timur, kulihat beberapa warung baru sedang dibuka. Dua warung yang kulihat adalah warung mie ayam, salah satunya terletak di jalan ramai dan cukup besar.

“Mengapa pak Eko memilih bisnis mie? Kenapa bukan sate atau kuliner yang lain?”

Pertanyaan itu sering kudengar dan jawaban yang kuberikan selalu jawaban standard.

“Mie Ayam adalah salah satu jenis kuliner yang cocok untuk dijual di waktu pagi, siang maupun malam”

“Mie Ayam juga cocok di saat musim hujan maupun musim panas”

“Mie Ayam adalah bisnis kuliner yang memerlukan modal relatif kecil dan sudah cukup menantang”

“Mie Ayam adalah awal bisnis yang lebih besar, nantinya akan ada bisnis kuliner lain di warung mie ayam. Bisnis kuliner lain itu bisa saja titipan teman kita atau memang kita yang ingin mengembangkan menu di warung kita. Jadi nama mie ayam hanya merk dagang saja, begitu pelanggan masuk, maka tidak hanya mie ayam yang dijual”

“Keuntungan dari bisnis mie ayam sedang-sedang saja, keuntungan terbesar sebenarnya ada pada bisnis minuman yang menjadi teman mie ayam”

Jawaban standard di atas tinggal dibalik-balik saja urutan njawabnya. Kadang hanya perlu satu jawaban dan penanya sudah puas, tetapi kadang sampai semua jurus dikeluarkan, masih saja sang penanya merasa belum puas.

Bila sudah seperti itu, maka aku biasanya mengalihkan topik pembicaraan ke filosofi sebuah komunitas bisnis, dalam hal ini yang sering kuceritakan adalah tentang model sinergi ala mastermind Tangan Di Atas.

Mastermind adalah model pertemuan dari sekelompok orang yang -diharapkan- mempunyai kedekatan letak geografis, sehingga mudah melakukan pertemuan dan mempunyai semangat yang sama untuk saling memberi.

Kalau aku sudah cerita tentang mastermind, biasanya mereka puas dan langsung bertanya bagaimana caranya agar bisa membuat sebuah kelompok mastermind. Nah, kalau pertanyaan ini, maka jawabannya hanya satu.

“Silahkan bergabung dengan komunitas Tangan Di Atas!”

Atas jawaban ini, biasanya masih ada kelanjutannya. Kadang mereka manggut-manggut, tapi banyak juga yang masih bertanya, “Apa itu kelompok Tangan Di Atas?”

Nah, aku harus bercerita lagi tentang Tangan Di Atas.

“Tangan Di Atas adalah sebuah komunitas wirausaha yang ada di Indonesia dan anggotanya tersebar di seluruh Indonesia”, begitu biasanya aku memulainya.

“Apa bedanya dengan Entrepreneur Universitynya pak Purdi?”

“Namanya jelas beda, isinya kurang lebihsama,meskipun ada perbedaan minor disana-sini. Anggota TDA -Tangan Di Atas- banyak juga yang menjadi anggota EU -Entrepreneur University”

“Apa prestasi TDA?”

“Wah pertanyaan ini susah njawabnya. Yang jelas, TDA adalah komunitas para wirausahawan yang terbaik di Indonesia versi majalah SWA”

“Kok susah njawabnya? Bukannya sudah bisa dijawab?”

“Susah dijawab saking banyaknya, hahahaha……”

Kitapun tertawa bersama dan biasanya diakhiri dengan makan mie sehati bersama. Salam sehati.

resto mie baru (1)

100 Warung Enak di Yogya (Plagiat?)


Awalnya adalah ketika aku mengawani anak-anak liburan ke toko buku di YoGyA, mataku langsung “nempel” pada buku kecil bernuansa warna ceria dengan judul “100 warung makan enak! di jogja”. Ini buku yang [kayaknya] diiklankan oleh wak Radit.

Waktu itu aku minta softcopynya ke Wak radit, he..he..he… tentu saja langsung ditolak..!:-).

Membaca buku kuliner seperti ini, aku langsung dimanjakan dengan informasi yang begitu lengkap dan padat (terima kasih buat sang pengarang)

Airliurkupun kadang terpaksa kutelan, karena meskipun cara berceritanya “cekak aos” [to the point], tapi imajinasiku sudah sampai kemana-mana.

Kalaupun ada yang perlu ditambahkan, mungkin perlu dibuat rekap berdasar beberapa kriteria, misalnya :

1. Model lesehan : warung nomor x, y dan z
2. Khas mahasiswa : warung a, b dan c
3. Bisa pakai kartu kredit : warung xx, yy dan zz
4. Cocok untuk reuni [40-100 orang] : warung xx, yy, zz dan aa
5. Ultra manis : warung b, d dan f
6. Ultra pedas : warung y, z dan g
7. Bisa pesan dan antar : warung nomor x, y, b, xx, yy, zz dan aa
8. dst ….

Bisa juga dengan cara penambahan label di tiap halaman, misalnya pada halaman warung nomor x, pada baris paling bawah diberi keterangan sebagai berikut :

Label : L, M, C
artinya modelnya lesehan, khas mahasiswa dan bisa pakai kartu kredit

label : R, UM, PA
artinya cocok untuk reuni [40-100 orang], ultra manis dan bisa pesan antar

label : UP, PA, L, C
artinya cocok untuk lesehan, ultra pedas, bisa pakai kartu kredit dan bisa pesan antar

label : dll, dst ….
artinya ? tambahin sendiri saja

Dengan adanya rekap atau model labeling di setiap warung, maka pembaca akan lebih dimudahkan dalam menentukan warung mana yang akan dia kunjungi.

Bisa juga diberi keterangan tambahan, misalnya SATE pak AmAt di alun-alun utara tetap buka di hari libur besar [lebaran, tahun baru, dsb].

Waktu sahur di hari terakhir Ramadhan tahun lalu, aku mencoba warung nomor 36 Gudeg Ibukota. Menurutku penulis buku ini tidak bohong kalau bilang rasa cekernya istimewa khas Gudeg Ibukota.

Suatu saat aku pingin nyoba juga ke Sate Pak Amat, yang katanya buka di hari lebaran. Ini adalah sate yang sangat sarat dengan nostalgia, baik rasa maupun tempatnya. Bila SGPC Bu Wiryo [legenda SGPC] mencoba rasa lama + nostalgia dibalut aroma musik sebagai tambahan menunya, maka Sate pak Amat yang lebih tua umurnya [?], tetep dengan penampilan yang “ajeg”. Mungkin maksudnya agar para penggemar lamanya tidak terlalu kaget melihat perubahan penampilannya.

Begitukah?

Silahkan coba sendiri 121 warung yang ada di buku “100 warung makan enak! di jogja”. Jangan tanya alamat pada orang Yogya yang sudah lama keluar dari yogya, karena aku sendiri tidak faham betul dengan alamat yang disampaikan penulis, meskipun aku bisa nyari dengan mudah [misalnya alamat warung nomor 92 Boyong Kalegan, akan lebih enak kalau ditulis begini, “dari arah yogyakarta menuju kaliurang, setelah sampai pakem belok ke kiri menuju sungai Boyong”]

Peta yang terlampir bersama buku ini, sangat membantu mereka yang belum kenal betul dengan YoGyA. Akan lebih baik lagi kalau nomor warung yang ada dalam buku disesuaikan dengan nomor petunjuk yang ada dalam peta.

Salam Sedap “Kuliner Nusantara”


*coba update rasa Sate Pak Amat, ternyata masih mak nyuss…. [kalau aku sih tongsengnya yang bikin ngiler terus…]

+++

Buku best seller ini ternyata menuai masalah bagi seorang blogger. Silahkan simak sendiri tulisannya yang mengatakan bahwa buku tersebut adalah plagiat dari karyanya.

Benar atau salah, silahkan mencari sumber yang lain.